Wednesday, September 21, 2005

Pemahaman Siapakah Golongan Ahlul Sunnah ?

As-Sunnah dalam istilah mempunyai beberapa makna (lihat : Mawaqif Ibnu Taimiyah Minal Asy'ariyah I : 3804 oleh Syeikh Abdur-Rahman Al-Mahmud). Dalam tulisan ringkas ini tidak hendak dibahas makna-makna itu. Tetapi hendak menjelaskan istilah "As-Sunnah" atau "Ahlus Sunnah" menurut petunjuk yang sesuai dengan i'tiqad Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan : "..... Dari Abu Sufyan Ats-Tsauri ia berkata :

"Berbuat baiklah terhadap ahlus-sunnah karena mereka itu ghuraba" (Diriwayatkan oleh Al-Lalika'i dalam "Syarhus-Sunnah" No. 49).

Maka yang dimaksudkan sebagai "As-Sunnah" menurut para Imam iaitu : "Thariqah (jalan hidup) Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di mana beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat berada di atasnya. Jalan yang selamat dari syubhat dan syahwat", oleh kerana itulah Al-Fudhail bin Iyadh mengatakan : "Ahlus Sunnah itu orang yang mengetahui apa yang masuk ke dalam perutnya dari (makanan) yang halal". ( lihat : Al-Lalika'i Syarhus Sunnah No. 51 dan Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah 8:1034).

Kerana tanpa memakan yang haram termasuk salah satu perkara sunnah yang besar yang pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabat radhiyallahu 'anhum. Kemudian dalam pemahaman kebanyakan Ulama Muta'akhirin dari kalangan Ahli Hadits dan lainnya. As-Sunnah itu ungkapan tentang apa yang selamat dari syubhat-syubhat dalam i'tiqad khususnya dalam masalah-masalah iman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhir, begitu juga dalam masalah-masalah Qadar dan Fadhailush-Shahabah (keutamaan shahabat).

Para Ulama itu menyusun beberapa kitab dalam masalah ini dan mereka menamakan karya-karya mereka itu sebagai "As-Sunnah". Menamakan masalah ini dengan "As-Sunnah" karena pentingnya masalah ini dan orang yang menyalahi dalam hal ini berada di dalam kehancuran. Adapun Sunnah yang sempurna adalah thariqah yang selamat dari syubhat dan syahwat. (Kasyful Karriyyah 19-20).

Ahlus Sunnah adalah mereka yang mengikuti sunnah Nabi shallallahu 'alahi wa sallam dan sunnah shahabatnya radhiyallahu 'anhum.

Al-Imam Ibnul Jauzi mengatakan : "..... Tidak diragukan bahwa Ahli Naqli (dalil) dan Atsar pengikut atsar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan atsar para shahabatnya, mereka itu Ahlus Sunnah". (Talbisul Iblis oleh Ibnul Jauzi hal.16 dan lihat Al-Fashlu oleh Ibnu Hazm 2:107).

Kata "Ahlus-Sunnah" mempunyai dua makna :

Mengikuti sunnah-sunnah dan atsar-atsar yang datangnya dari Rasulullah shallallu 'alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu 'anhum, menekuninya, memisahkan yang sahih dari yang cacat dan melaksanakan apa yang diwajibkan dari perkataan dan perbuatan dalam masalah aqidah dan ahkam.

Lebih khusus dari makna pertama, iaitu yang dijelaskan oleh sebagian ulama dimana mereka menamakan kitab mereka dengan nama As-Sunnah, seperti Abu Ashim, Al-Imam Ahmad bin Hanbal, Al-Imam Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, Al-Khalal dan lain-lain. Mereka maksudkan (As-Sunnah) itu i'tiqad shahih yang ditetapkan dengan nash dan ijma'.

Kedua makna itu menjelaskan kepada kita bahwa mazhab Ahlus Sunnah itu kelanjutan dari apa yang pernah dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaih wa sallam dan para shahabat radhiyallahu 'anhum. Adapun penamaan Ahlus Sunnah adalah sesudah terjadinya fitnah ketika awal munculnya firqah-firqah.

Ibnu Sirin rahimahullah mengatakan : "Mereka (pada mulanya) tidak pernah menanyakan tentang sanad. Ketika terjadi fitnah (para ulama) mengatakan : Tunjukkan (nama-nama) perawimu kepada kami. Kemudian jika dia melihat kepada Ahlus Sunnah maka hadits mereka akan diambil. Dan jika melihat kepada Ahlul Bi'dah maka hadits mereka tidak diambil". (Diriwayatkan oleh Muslim dalam Muqaddimah kitab shahihnya hal.15).

Al-Imam Malik rahimahullah pernah ditanya : "Siapakah Ahlus Sunnah itu ? Beliau menjawab : Ahlus Sunnah itu mereka yang tidak mempunyai laqab (jolokan) yang sudah terkenal yakni bu
kan Jahmi, Qadari, dan bukan pula Rafidhi". (Al-Intiqa fi Fadlailits Tsalatsatil Aimmatil Fuqaha. hal.35 oleh Ibnu Abdil Barr).

Kemudian ketika Jahmiyah mempunyai kekuasaan dan negara, mereka menjadi sumber bencana bagi manusia, mereka mengajak untuk masuk ke aliran Jahmiyah dengan anjuran dan paksaan. Mereka menggangu, menyiksa dan bahkan membunuh orang yang tidak sependapat dengan mereka. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala menlahirkan Al-Imam Ahmad bin Hanbal untuk membela Ahlus Sunnah. Di mana beliau bersabar atas ujian dan bencana yang ditimpakan mereka.

Beliau membantah dan mematahkan hujjah-hujjah mereka, kemudian beliau dianggap dan diumumkan serta memunculkan As-Sunnah dan beliau menghadang di hadapan Ahlul Bid'ah dan Ahlul Kalam. Sehingga, beliau diberi gelar Imam Ahlus Sunnah.

Dari keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwa istilah Ahlus Sunnah terkenal di kalangan Ulama Mutaqaddimin (terdahulu) dengan istilah yang berlawanan dengan istilah Ahlul Ahwa' wal Bida' dari kelompok Rafidhah, Jahmiyah, Khawarij, Murji'ah dan lain-lain. Sedangkan Ahlus Sunnah tetap berpegang pada usul (pokok) yang pernah diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan shahabat radhiyallahu 'anhum.

AHLUS SUNNAH WAL-JAMA'AH

Istilah yang digunakan untuk menamakan pengikut mazhab As-Salafus Shalih dalam i'tiqad ialah Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Banyak hadits yang memerintahkan untuk berjama'ah dan melarang berfirqah-firqah dan keluar dari jama'ah. (lihat : Wujubu Luzuumil Jama'ah wa Dzamit Tafarruq. hal. 115-117 oleh Jamal bin Ahmad Badi).

Para ulama berselisih tentang perintah berjama'ah ini dalam beberapa pendapat. (Al-I'tisham 2:260-265).

Jama'ah itu adalah As-Sawadul A'dzam (sekelompok manusia atau kelompok terbesar-pen) dari pemeluk Islam.

Para Imam Mujtahid

Para Shahabat Nabi radhiyallahu 'anhum.

Jama'ahnya kaum muslimin jika bersepakat atas sesuatu perkara.

Jama'ah kaum muslimin jika mengangkat seorang pemerintah.

Pendapat-pendapat di atas kembali kepada dua makna :

Bahawa jama'ah adalah mereka yang bersepakat mengangkat seseorang pemerintah (pemimpin) menurut tuntunan syara', maka wajib melazimi jama'ah ini dan haram menentang jama'ah ini dan pemerintahnya.

Bahawa jama'ah yang Ahlus Sunnah melakukan i'tiba' dan meninggalkan ibtida' (bid'ah) adalah mazhab yang haq yang wajib diikuti dan dijalani menurut manhajnya. Ini adalah makna penafsiran jama'ah dengan Sahabat Ahlul Ilmi wal Hadits, Ijma' atau As-Sawadul A'dzam. (Mauqif Ibni Taimiyah Minal Asya'irah 1 : 17).

Syaikhul Islam mengatakan : "Mereka (para ulama) menamakan Ahlul Jama'ah karena jama'ah itu adalah ijtima' (berkumpul) dan lawannya firqah. Meskipun lafaz jama'ah telah menjadi satu nama untuk orang-orang yang berkelompok. Sedangkan ijma' merupakan pokok ketiga yang menjadi sandaran ilmu dan dien. Dan mereka (para ulama) mengukur semua perkataan dan pebuatan manusia zahir mahupun batin yang ada hubungannya dengan dien dengan ketiga pokok ini (Al-Qur'an, Sunnah dan Ijma'). (Majmu al-Fatawa 3:175).

Istilah Ahlus Sunnah wal Jama'ah mempunyai istilah yang sama dengan Ahlus Sunnah. Dan secara umum para ulama menggunakan istilah ini sebagai pembanding kepada Ahlul Ahwa' wal Bida'. Contohnya : Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhum mengatakan tentang tafsir firman Allah Ta'ala :

"Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri dan adapula muka yang muram". (Ali-Imran : 105).

"Adapun orang-orang yang mukanya putih berseri adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah sedangkan orang-orang yang mukanya hitam muram adalah Ahlul Ahwa' wa Dhalalah". (Diriwayatkan oleh Al-Lalika'i 1:72 dan Ibnu Baththah dalam Asy-Syarah wal Ibanah 137. As-Suyuthi menisbahkan kepada Al-Khatib dalam tarikhnya dan Ibni Abi Hatim dalam Ad-Durrul Mantsur 2:63).

Sufyan Ats-Tsauri mengatakan : "Jika sampai (khabar) kepadamu tentang seseorang di arah timur ada pendukung sunnah dan yang lainnya di arah barat maka kirimkanlah salam kepadanya dan do'akanlah mereka. Alangkah sedikitnya Ahlus Sunnah wal Jama'ah". (Diriwayatkan oleh Al-Lalika'i dalam Syarhus Sunnah 1:64 dan Ibnul Jauzi dalam Talbisul Iblis hal.9).

Jadi kita dapat menyimpulkan bahwa Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah firqah yang berada di antara firqah-firqah yang ada, seperti juga kaum muslimin berada di tengah-tengah milah-milah lain. Penisbatan kepadanya, penamaan dengannya dan penggunaan nama ini menunjukkan atas luasnya i'tiqad dan manhaj.

Nama Ahlus Sunnah merupakan perkara yang baik dan boleh serta telah digunakan oleh para Ulama Salaf. Diantara yang paling banyak menggunakan istilah ini ialah Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.


Penjelasan dan Penambahan Ustaz Emran :

Pemahaman makna Ahlul sunnah ini ialah satu keperluan penting dalam perkara keagamaan bagi seorang muslim.

Sudah ditetapkan bahawa Al-Qur’an dan sunnah itu ialah satu ikutan asas dan utama maka hendaklah pula umat Islam menyedari bahawa Ahlul sunnah itu meluas dan tidak hanya pada hal aqidah semata sebaliknya pada manhaj kehidupan, dakwah, jihad dan muamalah berdasarkan ahlul sunnah dan menjauhi bid’ah dan kemungkaran yang bercanggah dengan sunnah.

" Wahai orang-orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada rasul.." (An-Nisa :50).

Ketaatan kepada rasul itu ialah beriman dengan sunnahnya apa yang sahih dari riwayat dan khabar tentang sunnah baginda yang sampai kepada kita. Perihal ini menyebabkan kita menjadikan sunnah rasulullah sebagai manhaj dalam kehidupan dan panduan serta jalan seperti yang disebut dalam riwayat Abu Hurairah dengan sabdanya :

“ Setiap Umatku akan masuk syurga melainkan mereka yang engkar, maka sahabat bertanya, siapakah yang engkar itu wahai rasulullah ? Siapa yang mentaati aku maka dia akan masuk syurga dan siapa yang menderhakai aku maka dialah golongan yang engkar.” (Hadith Sahih riwayat Bukhari no. 728).

Mengikuti rasulullah itu apakah dalam hal remeh seperti pakaian dan amalan kecil seperti bersugi sahaja ? Jawapannya bahkan tidak tetapi sunnah itu mencakupi seluruh aspek kehidupan Islam dari perihal aqidah dan iktiqad, ibadah dan solat seperti riwayat Malik bin Humairis ra menyebut bahawa baginda Rasulullah Salallahulaihiwasalam pernah bersabda :
“ Solatlah kamu seperti mana kamu melihat aku bersolat” (Hadith Sahih, riwayat Bukhari no. 631 dan Ahmad no. 53 Jilid 5 ).

Muamalah, perilaku dan akhlak, persoalan dakwah dan perjuangan serta jihad maka semuanya haruslah disandarkan dan diikut sunnah dan menjadikan sunnah rasulullah dan para sahabatnya serta golongan salaf soleh sebagai ikutan dan teladan maka inilah yang menjadi ruang lingkup sunnah sebagai suatu yang syumul.

Menyalahi sunnah bererti membawa kehancuran dan kerosakan dan menambah-nambah ajaran Islam atau mereka cipta jalan baru dalam dakwah dan perjuangan ialah bid’ah yang mencemar dan merosakkan Islam selain memecah-belahkan umat Islam. “ Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu urusan baru dalam agama kami sedang ia bukan dari kami maka sesungguhnya ianya ditolak.” (Hadith sahih disepakati Bukhari 156 Jilid 8 & Muslim no.4467) .

Menyakini Islam dan sunnah rasulullah itu sudah mencakupi segala aspek dan perlu bersih dari penambahan dan bid’ah ialah satu kewajipan dan tanda bukti keimanan kepada Allah dan rasul.

“ Dan diturunkan kepada kamu kitab (Al-Qur’an) yang menerangkan segala-galanya” (Surah An-Nahl : 89).

“ Tidaklah kami tertinggalkan sesuatu perkara pun dalam kitab melainkan telah kami terangkan segalanya” (Surah Al-An’am : 38).

Bahkan hal ini wajib iaitu mempercayai telah sempurna dakwah baginda rasulullah dan telah tertunai amanah Allah kepada baginda untuk menyampaikan ilmunya seperti yang sahih dari dalam riwayat Abu Dzar ra berkata : Rasulullah salallahualaihiwasalam bersabda : “Tidaklah tertinggal sesuatu yang dapat mendekatkan ke Syurga dan menjauhkan dari Neraka kecuali telah diterangkan pada kalian.” Juga disebut oleh Abu Zar ra akan katanya “ Rasulullah meninggalkan kami dalam keadaan tidak ada seekor burung pun yang mengepak-ngepakkan kedua sayapnya di udara kecuali beliau menyebutkan ilmunya pada kami.” (Hadith Sahih riwayat Thabrani dalam Mu’jamul Kabir, lihat As Sahihah oleh Syeikh Albani ra 416 Jilid 4 dan hadith ini memiliki pendukung dari riwayat lain).

Oleh yang demikian maka golongan yang menolak sunnah rasulullah tidak lain hanyalah mereka yang mencari nahas dunia dan akhirat dan berada dalam kesesatan yang akan mencelakakan mereka dunia akhirat seperti disebut dalam hadith baginda dari riwayat Abdullah ibn Mas’ud bahawa baginda salallahualaihiwasalam pernah bersabda yang bermaksud “ Aku bersama kamu di telaga Al-Hau’d ketika para malaikat menghambat sekumpulan dari umat aku dan aku mengenali mereka dari ummat aku, maka aku berkata kepada tuhan (Allah) Wahai tuhan mereka umatku, maka dijawab Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang telah mereka perbuat selepas kematianmu (yakni mereka telah menyeleweng, berbuat bid;ah). (Hadith Sahih disepakati Bukhari no. 6576 & Muslim no. 2257).

Hendaklah melazimi ahlul sunnah dan hal itu walau seorang maka seorang muslim tetap dikira bersama dengan jamaah ahlul sunnah apabila di sekellilingnya dipenuhi ahlul bid’ah. Ini berhujah kepada hadith baginda yang diriwayatkan oleh Ibn Umar ra yang bermaksud “Akan datang kepada umatku perkara seperti yang pernah menimpa kaum bani Israel , selangkah demi selangkah sehingga akan berlaku dikalangan mereka yang berzina dengan ibunya secara terang-terangan. Sehingga ada umatku akan melakukan sedemikian. Sesungguhnya umat bani Israel berpecah kepada 72 golongan dan akan berpecah umatku kepada 73 golongan dan kesemuanya di neraka kecuali satu golongan. Maka bertanyalah para sahabat ra kepada baginda akan siapakah golongan yang satu itu wahai rasulullah ? Maka jawab baginda “ Golongan yang aku berada di dalamnya dan para sahabatku .” (Hadith Hasan, riwayat Tirmidzi no.26 Jilid 5, Hakim no.218 Jilid 1).


Golongan yang beradanya rasulullah dan para sahabat maka ini disebut oleh baginda dengan istilah al-jamaah iaitu satu kumpulan selamat dan mereka ini iaitu sahabat kemudiannya mewariskan pemahaman dan keimanan serta ilmu dan manhaj kebenaran yang diwarisi oleh nabi itu kepada golongan selepas mereka iaitu tabien dan selepas itu kepada golongan selepas mereka iaitu tabi tabien maka inilah yang disebut sebagai sebaik-baik zaman dan kurun seperti sabda baginda salallahualaihiwasalam melalui riwayat Aisyah ra : “Sebaik-baik kurun manusia ialah kurun aku berada di dalamnya dan kemudian kurun kedua (Sahabat) dan kurun ketiga (Tabi’ien). “ (Sahih Muslim no 1965 Jilid 2, Abu Daud 44 Jilid 5).

Mereka inilah salaf soleh yang manhaj dan kehidupan agama mereka perlu dan wajib diikuti dan dituruti sebagai mengambil jalan selamat menuju Allah dan menjauhi kemungkaran dan bid’ah serta penyelewengan.

Ubay bin Ka'ab berkata : 'Sesungguhnya sederhana di jalan ini dan (di atas) sunnah itu lebih baik daripada bersungguh-sungguh tetapi dalam menentang jalan ini dan bercanggah dengan sunnah.
Maka lihatlah amalan kalian jika dalam keadaan bersungguh-sungguh atau sederhana hendaknya di atas manhaj (cara pemahaman dan pengamalan) para Nabi dan sunnah mereka.'
Diriwayatkan dalam sebuah perjalanan, orang-orang Khawarij bertemu dengan Abdullah bin Khabbab ra maka mereka berkata : "Apakah engkau pernah mendengar dari ayahmu sebuah hadits yang dia mendengarnya dari Rasulullah?" Beliau menjawab : "Ya, aku mendengar ayahku berkata : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berbicara tentang fitnah. Iaitu mereka yang duduk lebih baik daripada yang berdiri dan golongan yang berjalan lebih baik daripada mereka yang berlari. Maka jika engkau mendapati masa seperti itu, jadilah engkau seorang hamba Allah yang terbunuh'." (hadith hasan riwayat Ahmad 5/110, Ath Thabrani nombor 3630, dan hadits ini memiliki beberapa syawahid).

Dari Mughirah ibn Syu’bah ra bahawa baginda rasulullah bersabda : “Tidaklah akan hilang segolongan dari umat aku mereka yang zahir di atas kebenaran sehinggalah datang ketentuan Allah ke atas mereka dan mereka tetap dalam kebenaran” (hadith sahih riwayat Bukhari no. 3640 dan Muslim no. 1921).

Berkatalah Imam Bukhari pada hadith ini bahawa golongan ini ialah para ahlul hadith dan golongan ulama’ yang kekal berada di jalan sunnah. Moga Allah jadikan kita bersama mereka dna bukan bersama golongan pembuat dan pendokong hadith palsu, dhaif, mungkar dan pembuat bid’ah dan ahlul hawa dan mereka yang berjuang Islam menurut fikrah ciptaan manusia.

Monday, September 19, 2005

Peringatan dari Melakukan Bid'ah pada Nisfu Sya'ban Ikutilah Salaf Soleh Sebagai Teladan.

Peringatan dari Melakukan Bid'ah pada Nisfu Sya'ban Ikutilah Salaf Soleh Sebagai Teladan. Kepada ikhwah tertentu, benar bahawa wujud golongan yang mewar-warkan seruan kembali kepada Al-Qur'an dan sunnah namun tidak lebih hanya sekadar cakap... Ianya sebenarnya tertuju kepada mereka yang masih melekat amalannya kepada bid'ah dan kepalsuan serta kejahilan yang berselindung disebalik tok-tok guru , habib dan kumpulan mereka.

Allah swt telah berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan agamamu dan telah Kucukupkan nikmatKu dan telah Kuredhai Islam itu sebagai agama bagimu” (Al-Maidah: 3).

Nabi sallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah, dan sebaik-baik jalan hidup adalah jalan hidup Muhammad, dan seburuk-buruk perkara (dalam agama) ialah yang diada-adakan (bid’ah), dan setiap bid’ah itu sesat” (Hadith Sahih riwayat Muslim).

Sekalipun telah jelas firman Allah bahawa agama ini sudah sempurna dan tidak perlu kepada tokok tambah dan amalan baru namun kerana ianya dari tok-tok guru dari para habib dan tokoh yang dihormati maka amalan baru ini terpaksa diterima dan akhirnya tetap di amalkan.

Ikhwah Sekalian

Telah sempurna Islam ini dari penambahan dan tidak sampai kepada kita riwayat yang sahih bahawa wujud amalan nisfu sya'ban seperti yang dilakukan oleh orang-orang hari ini sekaligus cukup kita simpulkan ianya palsu dan di ada-adakan kerana jika sahih dilakukan oleh para salaf soleh pasti telah sampai riwayatnya kepada kita.

Tentang masalah nishfu Sya’ban Ibn Rajab dalam kitabnya Latha’iful Ma’arif mengatakan: “Para tabi’in dari ahli Syam (sekarang Syiria. red) seperti Kholid bin Ma’dan, Makhul, Luqman bin Amir dan lainnya.

Pernah mengagung-agungkan dan berijtihad melakukan ibadah pada malam nishfu Sya’ban, kemudian orang-orang berikutnya mengambil keutamaan dan pengagungan itu dari mereka. Dikatakan pula, bahwa mereka melakukan perbuatan demikian kerana adanya cerita-cerita isra’illyat. Tatkala masalah ini menyebar ke berbagai negeri, berselisihlah kaum muslimin, ada yang menerima dan menyetujuinya, ada juga yang mengingkarinya.

Golongan yang menerima adalah para ahli ibadah dari Bashrah dan kota lainnya. Sedangkan golongan yang mengingkarinya iaitu sebagian besar ulama’ hijaz, seperti Atha’ Ibn Abi Malaikah dan –menurut penukilan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam- para fuqoha’ (ahli fiqih) Madinah, in juga merupakan pendapat para pengikut Imam Malik dan lainnya. Menurut mereka, semua perbuatan ini adalah bid’ah.

Ibn Rajab selajutnya berkata, tidak ada suatu ketetapan apapun tentang masalah nisfu Sya’ban ini baik dari rasul sallallahu ‘alahi wa sallam mahupun dari para sahabat.

Adapun pendapat imam Al-Auza’i tentang (dianjurkan) sholat malam nishfu Sya’ban, maka hal ini aneh dan lemah. Karena segala perbuatan, bila tidak ada dalil syar’i yang menetapkannya, maka tidak boleh bagi seorang muslim mengada-adakannya, baik itu dikerjakan secara individu maupun kolektif (berjama’ah), secara sembunyi mahupun terang-terangan. Berdasarkan keumuman hadits Nabi sallallahu ‘alahi wa sallam: “Barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak kami perintahkan, maka (perbuatan) itu tertolak.” (Hadith Sahih riwayat Muslim) serta dalil-dalil lainnya yang mengingkari perbuatan bid’ah dan memperingatkan agar dijauhi.

Imam Abu Bakar Ath-Thurthusyi rahimahullah dalam kitabnya Al-Hawadits wal Bida’ mengatakan: “Diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhah dari Zaid bin Aslam, katanya: “Kami tidak menjumpai seorangpun dari guru kamu dan ahli fiqih kami yang memperingati malam Nishfu Sya’ban, ataupun mengindahkan hadits Makhul"

Merekapun tidak memandang adanya keutamaan pada tersebut dari malam-malam lainnya. Dikatakan kepada Ibnu Abi Mulaikah bahwa Zaid An-Numairi menyatakan: “Pahala yang didapat (dari ibadah) pada malam nishfu Sya’ban menyamai pahala Lailatul Qadar.”

Beliau serta menjawab: “Seandainya saya mendengarnya sedang ditangan saya ada tongkat, pasti saya pukul dianya kerana Ziad adalah seorang pendongeng.”

Al-Allamah Asy-Syaukani rahimahullah dalam kitabnya Al-Fawaid Al-Majmu’ah berkata. Hadits “Wahai Ali siapa yang melakukan shalat pada malam nishfu Sya’ban sebanyak seratus rakaat, pada setiap rakaat ia membaca Al-Faatihah dan Qu huwallahu ahad sebanyak sepuluh kali, pada Allah memenuhi segala hajatnya…dst.”

Hadits ini adalah Maudhu.

Lafadznya yang menerangkan tentang pahala yang akan diterima oleh pelakunya tidak diragukan lagi kelemahannya bagi orang yang berakal.

Sanadnya pun Majhul (tidak dikenal). Telah diriwayatkan dari jalan kedua dan ketiga, tetapi semuanya Maudhu, dan para periwayatnya adalah orang-orang yang tidak dikenal.”

Dalam Kitab Al-Mukhtashar, Asy-Syaukani menyatakan: “Hadits yang menerangkan Solat nishfu Sya’ban adalah bathil. Sedangkan hadits: “Jika datang malam nishfu Sya’ban maka solatlah pada malam harinya dan berpuasalah pada siang harinya” yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Ali adalah Dha’if.”

Dalam Kitab Al-La’ali dinyatakan, hadits: “Seratus rakaat pada malam nishfu Sya’ban dengan ikhlas pahalanya sepuluh kali ganda”, yang diriwayatkan oleh Ad-Dailami adalah Maudhu dan mayoritas periwayatnya pada ketiga jalan hadits ini adalah orang-orang yang majhul dan dha’if.

Kata Imam Syaukani: “Hadits yang menerangkan, dua belas rakaat dengan ikhlas pahalanya tiga puluh kali ganda dan hadits empat belas rakaat dan lain-lain, adalah Maudhu.”

Diantara para Fuqaha (alhi fiqh) ada yang tertipu dengan hadits-hadits diatas, seperti pengarang Ihya ‘Ulumuddin dan lainnya, juga sebagian ahli tafsir.

Al-Hafidz Al-Iraqi menyatakan: “Hadits yang menerangkan tentang shalat nisfu Sya’ban adalah Maudhu dan pendustaan atas diri Rasullullah sallallahu ‘alahi wa sallam.

Dalam Kitab Al-Majmu’, Imam An-Nawawi menyatakan: “Solat yang dikenal dengan shalat Raghaib yang berjumlah dua belas rakaat dan dikerjakan antara maghrib dan isya pada malam jumat pertama bulan Rajab, serta solat malam nishfu sya’ban yang berjumlah seratus rakaat adalah bid’ah yang mungkar, tidak boleh seseorang terperdaya oleh karena kedua shalat itu disebut dalam Kitab Qutul Qulub dan Ihya Ulumuddin, atau karena berdasarkan hadits yang disebutkan pada kedua kitab tersebut, sebab semuanya adalah bathil.

Tidak boleh seseorang terperdaya oleh kesilapan sebagian tokoh, yang belum jelas baginya hukum kedua shalat ini, lalu mengarang dalam beberapa lembar kertas untuk menganjurkannya. Ini adalah tindakan menipu.”

Masih banyak ucapan para ulama dalam hal ini. Kalau kita mahu menukil semua tentu akan panjang sekali. Semoga apa yang kami sebutkan diatas cukup memuaskan bagi pencari kebenaran.

Dari beberapa ayat Al-Qur’an, hadits dan pernyataan para ulama diatas, jelaslah bagi pencari kebenaran bahwa peringatan malam nisfu Sya’ban dengan shalat atau amalan lainnya, serta pengkhususan siang harinya dengan puasa itu semua adalah bid’ah yang mungkar menurut jumhur ulama, tidak ada dasar sandarannya dalam syari’at Islam, bahkan merupakan perbuatan yang diada-adakan, cukuplah bagi pencari kebenaran dalam masalah ini, juga masalah lainnya firman Allah: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu…” (Al-Maidah: 3)

Andaikata malam nisfu Sya’ban dikhususkan dengan acara atau ibadah tertentu, pastilah Nabi sallallahu ‘alahi wa sallam memberikan petunjuk pada umatnya, atau beliau sendiri yang mengerjakannya.

Dan jika hal itu memang pernah terjadi, niscara telah disampaikan oleh para sahabat kepada kita, mereka tidak akan menyembunyikannya, karena mereka adalah sebaik-baik manusia yang paling tulus setelah para nabi.
Maka jelaslah, meperingati malam nisfu Sya’ban adalah bid’ah.Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada kita dan kaum muslimin untuk berpegang teguh kepada sunnah dan menjauhi bid'ah.

Sunday, September 18, 2005

Bagaimana Memahami Ayat 54 Surah Ali Imran ?

Berikut ialah soal-jawab di antara ustaz emran dan mereka yang bertanya. Sila ke nisal_fizan@yahoo.com bagi bertanyakan soalan dan elakkan dari terus menuju kepada ust emran atas kesibukan beliau dan menyesakkan email beliau..wallahualam



Bagaimana memahami
ayat “ ومكروا ومكر الله والله خير الماكرين”
yang terdapat dalam surah Alil-Imran ayat 54 ?


Dalam kesibukan ana menuntut ilmu ana tidak dapat mengelak dari terpaksa menjawab soalan-soalan penting antaranya ialah yang berkait masalah pemahaman Al-Qur’an dan sunnah serta perihal aqidah.

Pertanyaan di atas sangatlah penting apabila kita mendapati hari ini ramai jahil lalu menafsirkan ayat Allah sewenang-wenang mereka dan mentakwil sifat dan perilaku Allah yang disebut sendiri oleh-Nya di dalam kitab suci Al-Qur’an tanpa ilmu.

Berikut ialah tafsiran Ulama ummah’ pelita penerang kegelapan umat Muhadith dari Negeri Syam yang dirahmati Allah, Syeikh Muhammad Nasiruddin Albani ra dalam memahami ayat 54 surah Ali imran :


وَمَكَرُوا وَمَكَرَ الله وَاللهُ خَيرُ المَاكِرِينَ

“Mereka itu melakukan muslihat dan tipudaya kepada Allah dan Allah membalas muslihat mereka dan Allahlah sebaik-baik pembuat muslihat dan tipudaya (bagi membalas tipudaya mereka)” ( Ali Imran : 54).

“Masalah ini sangatlah mudah dengan izin Allah, ianya disebabkan kita dapat mengenali apakah makna ( المكر ) “makar, tipu daya, helah, muslihat ” dalam ayat ini dari pengertian kalimah “makar, tipu daya, helah, muslihat” .

Sesungguhnya tidaklah disifatkan makar, tipu daya, helah, muslihat itu dinisbahkan selamanya dengan sifat yang buruk sebagaimana kita tidaklah pula menisbahkan ia kepada sifat yang baik.

Adakalanya, orang yang kafir mengadakan muslihat kepada seorang muslim tetapi si muslim tersebut tidaklah bodoh dan lalai lalu si muslim tersebut bertindak mencegah dari dirinya ditipu dan terpedaya oleh muslihat si kafir sehingga akhirnya si kafir itu sendiri terpedaya kembali atas perbuatannya maka apakah jika berlaku demikian maka dikata si lelaki muslim ini melakukan sesuatu yang tidak syar’ie ?

Maka tiada seorang pun yang akan berkata demikian.

Lebih mudah memahami hakikat kalimah ini ialah dari mengambil perhatian kepada sabda rasulullah salallahualaihiwasalam :


الحرب خدعة

“Perang itu ialah satu tipu daya” (hadith sahih riwayat Bukhari no. 3030 dan Muslim no. 1740 )


Maka erti kalimah ( الخدعة) iaitu tipu daya samalah maknanya dengan kalimah ( المكر ) iaitu juga membawa pengertian tipudaya, muslihat. Maka hukum seorang muslim mengadakan muslihat kepada saudara semuslim dengannya ialah HARAM.

Hal ini tidak dapat dibenarkan sekalipun dalam urusan peraduan atau pertandingan sesama muslim kerana hendaklah seorang muslim itu tidak melakukan helah terhadap saudaranya kerana ianya satu dosa.

Tetapi mengadakan muslihat oleh seorang muslim kepada seorang kafir yang memusuhi Allah dan rasul-Nya maka ini tidaklah haram bahkan menjadi wajib dan demikianlah juga keadaannya bagi seroang muslim memelihara dirinya dari ditipu daya oleh si kafir.

Maka apa pula kaitannya kalimah المكر yang disebut dalam firman Allah itu membawa kaitannya kepada zat Allah yang menguasai semesta alam dan berkuasa lagi Maha Mengetahui serta Bijaksana ?

Maka disinilah disebut ulama bahawa makar (المكر ) muslihat dalam ayat ini ialah Dia (Allah) yang Maha membatalkan segala tipudaya dan musihat dengan muslihatnya yang mengatasi segalanya. Bahkan apabila Allah menyifatkan dirinya dengan sifat makar , helah atau tipudaya dalam ayat ini maka jadilah perbuatan ini tidak selamanya jahat atau buruk seperti ia tidak selamanya benar dan baik tetapi bergantung kepada keadaan dan pembuatnya.

Juga disebut (خير الماكرين ) “Sebaik-baik pembuat tipudaya dan helah muslihat” memberi erti Allah itu melakukan makar dan helah atau muslihat dalam keadaan yang paling baik dan membawa kebaikan.

Secara kesimpulannya menunjukkan dalam melakukan makar, helah atau muslihat ada peringkat dan taraf yang berbeza iaiatu ada yang baik, ada yang jahat dan buruk dan ada yang mulia dan sebaik-sebaiknya serta yang paling mulia dan agung ialah apa yang dilakukan oleh Allah swt dan itulah yang disebut sendiri oleh Allah akan sifat-Nya maka wajiblah kita beriman dengan segala sifat-Nya yang disebut dalam Al-Qur’an tanpa mengubah maknanya.

“Dan tidaklah ada sesuatu yang seperti-Nya (Allah) dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat” (As-Syura : 11).



bersambung...

Wednesday, September 14, 2005

Marilah Berhijrah Kepada Manhaj Salaf Bersama Tokoh Islam Yang Lain (Tinggalkan Kejahilan)

Satu artikel yang sangat menarik dari hasil pena al-Fadhil Zain y.s dalam laman
http://mukmin.info/blog2/?item=mari-kita-berhijrah-bersama-mereka-ke-mazhab-salaf-syeikh-rasyid-redha

Marilah berkongsi dan menghayati penulisan mereka yang diberi hidayah oleh Allah dengan kefahaman manhaj Salaf soleh Ummah yang lebih bernilai dari permata dunia, kemewahan, cinta dan pelbagai nikmat dunia...

Nikmat Islam dan kefahaman yang sahih itulah sebesar nikmat Allah kepada hamba-Nya. (uStaz emran).






Mari kita berhijrah bersama mereka ke mazhab salaf: Bersama Jalan yang dilalui oleh mereka termasuk Syeikh Rasyid Redha


Marilah kita berhijrah bersama mereka. Bersama kafilah al-Ghazali, Rasyid Redha, Abul Hasan al-Asy'ari dan selain mereka. Kembali berhijrah kepada ajaran murni Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Dari pelbagai aliran akhirnya mereka berhijrah kepada salafiyah. Mazhab salafus soleh.

Syeikh Saiyid Rasyid Redha. Siapa tidak mengenalinya? Memperkenalkannya samalah seperti menunjukkan sang mentari di tengahari. Seorang muslih abad ini. Yang dari tangannya diceduk pelbagai kebaikan oleh muslih-muslih lainnya hinggalah kehari ini.

Beliau asal sufi. Pengamal tarekat sufi. Mulanya Syazaliyah, kemudian Naqsyabandiyah. Nama penuhnya Muhamad Rasyid bin Ali Ridha bin Syamsudin bin Baha'uddin al-Husaini. Nasabnya sampai kepada ahlul bait Rasululllah s.a.w. Lahir pada 27/5/1282 Hijrah di Selatan Tarablus, Syam.

Banyak pengalaman yang dilaluinya ketika bersama tarekat-tarekat ini. Dirasakannya, terdapat banyak perkara bid'ah di dalamnya yang menyalahi al-Quran dan al-Sunnah. Antaranya, beliau pernah memperolehi ijazah kitab Dala'ilul Khairaat dari syeikh Syazalinya. Lalu beliau mendapati di dalamnya terdapat banyak pendustaan ke atas Rasulullah s.a.w. Lalu beliau meninggalkannya dan berpaling kepada wirid-wirid yang sahih dan sabit dari Rasulullah s.a.w.

Semasa di dalam Naqsyabandiah, beliau melakukan zikir harian Ismul Jalalah (Allah) sebanyak lima ribu kali. Dengan memejamkan mata, menahan pernafasan sekadar termampu dan melakukan rabitah antara hatinya dan hati gurunya. Kemudian setelah itu jelaslah kepadanya bahawa zikir begini adalah bid'ah. Malah boleh berlaku syirik khafi. Kerana apa yang Tauhid kehendaki ialah dalam setiap peribadatan seorang hamba, hatinya hendaklah ditawajjuhkan sepenuhnya kepada Allah Taala, bukan kepada guru.

Setelah itu, beliau terkesan dengan pemikiran al-Afghani dan Muhamad Abduh. Dan akhirnya, beliau telah benar-benar terpengaruh dengan kitab-kitab Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syeikh Muhamad bin Abdul Wahab. Dan banyak pemikirannya tertuang di dalam majalahnya yang terkenal, majalah al-Manar.
(Ruj: http://www.alwahabih.com/121.htm)

Tentang salafiyahnya Syeikh Rasyid Redha ini, jelas dapat dilihat melalui perkataan syeikh Yusof al-Qaradhawi yang secara terang-terangan menyatakan bahawa beliau sendiri antara salah seorang pengkagumnya. Di dalam Fatawa Mua'sharah vol 2:

"Saya juga bersyukur kepada Allah terhadap mereka yang menaruh hormat dan penghargaan kepada orang2 yg memainkan peranan jelas dalam menghidupkan umat ini, memperbaharui agamanya, dan membangkitkan kesedaran mereka. Tentu saja, hal ini merupakan kelebihan yang baik yang wajib ditetapkan dan dipegang teguh, kerana saya melihat ramai orang -sangat disesalkan- yang tidak mempunyai keinginan kecuali menghancurkan dan meruntuhkan sesuatu yang tinggi dan memburuk-burukkan pahlawan dan pembesar yang telah mewariskan peradaban. Maka tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

Saya juga bersyukur kepada Allah atas prasangka baik saudara penyoal kepada saya, dan saya berharap bahawa saya layak menyandang apa yang sdra sebutkan, serta layak memberikan penjelasan tentang keadaan Syeikh Rasyid Redha. Semoga Allah memberi rahmat kepada beliau dan membalas kebaikan beliau terhadap agama dan umatnya
.

Saya tidak mengingkari bahawa saya termasuk salah seorang pengkagum Syeikh Rasyid Redha, dan saya menganggapnya sebagai salah seorang mujaddid Islam, sebagai salah seorang ulamak yg mendalam ilmunya, yang berfikiran merdeka, dan mujtahid dalam agama. Majalahnya, al-Manar, dan tafsirnya, alManar, berserta kitab2 dan fatwa2nya memiliki pengaruh yg tidak dapat disangkal oleh seorangpun dalam menyedarkan umat Islam dari kelalaiannya dan membebaskan mereka dari rantai taklid yang membelenggu leher mereka. Beliau juga berusaha keras untuk mengembalikan mereka kepada sumber2 agama yg jernih, iaitu kitab Allah dan sunnah nabiNya serta petunjuk dan bimbingan salaf yg saleh, genarasi terbaik...."

Pengakuan al-Qaradhawi bahawa Syeikh Rasyid Redha sebagai pembawa panji-panji salaf, memerangi taqlid dan bid'ah ada di sebutkan di dalam kitabnya yang lain.(Ruj: Ummatina Baina Qarnain, hal: 105).

Syeikh Rasyid Redha juga antara orang yang bertanggungjawab menyebarkan kitab-kitab karya Syeikh Muhamad bin Abdul Wahab:

محمد رشيد رضا صاحب المنار، ٿي مصر، وهو الذي ساهم ٿي نشر كتب الشيخ
(Ruj: http://www.alsaha.com/sahat/Forum2/HTML/005404.html)

Di samping itu, beliau juga adalah antara orang yang mempertahankannya dan mengeji mereka yang mengeji dan menfitnahnya. Antaranya ialah tulisannya dalam mukadimah kitab Siyanatul Insan An Waswasatil Dahlan. Iaitu kitab yang menolak fitnah dan pembohongan Zaini Dahlan ke atas Syeikh Muhamad bin Abdul Wahab:

قول الشيخ رشيد رضا - رحمه الله - ٿي تقديمه لكتاب (صيانة الإنسان عن وسوسة دحلان): "كنا نسمع ٿي صغرنا أخبار الوهابية المستمدة من رسالة دحلان هذا وأمثاله ٿنصدقها بالتبع لمشايخنا وآبائنا، ونصدق أن الدولة العثمانية هي حامية الدين ولأجله حاربتهم وخضدت شوكتهم، وأنا لم أعلم بحقيقة هذه الطائٿة إلا بعد الهجرة إلى مصر والاطلاع على تاريخ الجبرتي، وتاريخ الاستقصاء ٿي أخبار المغرب الأقصى ٿعلمت منهما أنهم هم الذين كانوا على هداية الإسلام دون مقاتليهم، وأكده الاجتماع بالمطلعين على التاريخ من أهلها، ولا سيما تواريخ الإٿرنج الذين بحثوا عن حقيقة الأمر ٿعلموها وصرحوا أن هؤلاء الناس أرادوا تجديد الإسلام وإعادته إلى ما كان عليه ٿي الصدر الأول، وإذا تجدد مجده وعادت إليه قوته وحضارته، وأن الدولة العثمانية ما حاربتهم إلا خوٿاً من تجديد ملك العرب وإعادة الخلاٿة الإسلامية سيرتها الأولى..." إلى أن قال: "ثم اطلعت على أكثر كتب الشيخ محمد بن عبد الوهاب ورسائله وٿتاويه، وكتب أولاده وأحٿاده، ورسائلهم ورسائل غيرهم من علماء نجد ٿي عهد هذه النهضة التجديدية ٿرأيت أنه لم يصل إليهم اعتراض ولاطعن ٿيهم إلا وأجابوا عنه، ٿما كان كذبا عليهم قالوا: سبحانك هذا بهتان عظيم، وماكان صحيحاً أو له أصل بينوا حقيقته وردوا عليه.

وقد طبعت كتبهم، وعرٿ الألوٿ من الناس أصل تلك المٿتريات عنهم، ومن المستبعد جداً أن يكون الشيخ أحمد دحلان لم يطلع على شيء من تلك الكتب والرسائل، وهو ٿي مركزه بمكة المكرمة على مقربة منهم ٿإن كان قد اطلع عليها ثم أصر على ما عزاه إليهم من الكذب والبهتان ـ لاسيما ما نٿوه صريحاً وتبرؤوا منه ـ ٿأي قيمة لنقله ولدينه ولأمانته، وهل هو إلا ممن باعوا دينهم بدنياهم... وإذا ٿرضنا أن الشيخ أحمد دحلان لم ير شيئاً من تلك الكتب والرسائل، ولم يسمع بخبر عن تلك المناظرات والدلائل، وأن كل ما كتبه ٿي رسالته قد سمعه من الناس وصدقه أٿلم يكن من الواجب عليه أن يتثبت ٿيه ويبحث ويسأل عن كتب الشيخ محمد بن عبد الوهاب ورسائله ويجعل رده عليها... إن علماء السنة ٿي الهند واليمن قد بلغهم كل ما قيل ٿي هذا الرجل ٿبحثوا وتثبتوا وتبينوا كما أمر الله - تعالى - ٿظهر لهم أن الطاعنين ٿيه مٿترون لا أمانة لهم، وأثنى عليه ٿحولهم ٿي عصره وبعد عصره وعدّوه من أئمة المصلحين المجددين للإسلام، ومن ٿقهاء أهل الحديث كما نراه ٿي كتبهم ولا تسع هذه المقدمة لنقل شيء من ذلك" ا.هـ.
(Ruj: http://www.almoslim.net/Moslim_Files/
dawah/show_article_main.cfm?id=370)

Antara isinya, beliau menceritakan bagaimana beliau tertipu sejak kecil lagi dengan pembohongan-pembohongan dan fitnah-fitnah yang terdapat di dalam kitab Zaini Dahlan. Beliau menyedari semuanya itu hanyalah fitnah dan dusta selepas beliau berhijrah ke Mesir. Di mana di sini beliau telah mengkaji mengenai gerakan Syeikh Muhamad bin Abdul Wahab. Juga banyak membaca kitab-kitab, risalah-risalah dan fatwa-fatwanya, anaknya, cucunya dan ulama-ulama Najd.

Dengan pengetahuan tentang hakikat dakwah syeikh Muhamad bin Abdul Wahab, beliau membuat kesimpulan:

1. Tidak ada satupun tuduhan-tuduhan yang dilemparkan ke atas syeikh melainkan dusta dan fitnah.

2. Zaini Dahlan dan musuh-musuh syeikh merupakan orang yang tidak bertanggujawab dan tidak amanah. Samada kerana tidak tahu tentang hakikat dakwah syeikh ataupun sebab-sebab lainnya.

Syeikh al-Albani ra sendiri mula meminati bidang hadis kesan dari membaca majalah al-Manar terbitan beliau:

ٿتعلم الحديث ٿي نحو العشرين من عمره متأثراً بأبحاث مجلة المنار التي كان يصدرها الشيخ محمد رشيد رضا (رحمه الله) و كان أول عمل حديثي قام به هو نسخ كتاب " المغني عن حمل الأسٿار ٿي تخريج ما ٿي الإحياء من الأخبار" للحاٿظ العراقي (رحمه الله) مع التعليق عليه

(Ruj:
http://www.islamway.com/?iw_s=Scholar&iw_a=info&scholar_id=47

Sunday, September 11, 2005

Kuliah Khas Ustaz Emran


Berikut ialah Teks Kuliah Khas Ustaz Emran ibn Ahmad ibn Omar ibn Al-Ghazalie As- Sabit.

Allah menetapkan orang yang beriman itu dengan perkataan yang tetap pada kehidupan dunia dan akhirat” (Ibrahim : 27).

Moga dapatlah mengambil manfaat dari isi kuliah ini walaupun ada sesetengah isu yang sensitive dan disebut tanpa lapik dan berlindung demi kemaslahatan ummah dan sila ambil manfaat dari soal jawab dan teks jawpaan soalan yang diberikan di bawah wallahualam…


بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله

إن الحمد لله نحمده و نستعينه ونستغفره, ونعوذ بالله من شرور أنفسنا و سيئات أعما لنا من يهده الله فلا مضلَّ له ومن يضْلل فلا هاديه له, و أشهد أن لا َّاله إلا الله و حده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.
ياَيُّهَا الَّذِينَ امَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ اِلاَّ وَاَنتُم مُّسلِمُونَ (آل عمران: 102)
ياَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم من نَّفسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنهَا زَوجَهَا وَبَثَّ مِنهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا (النساء: 1)
ياَيُّهَا الَّذِينَ امَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَولاً سَدِيداً يُصلِح لَكُم اَعمَالَكُم وَيَغفِر لَكُم ذُنُوبَكُم وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَد فَاز فوزا عظيما (الأحزاب:70).

أمِّا بعد:

Segala puji bagi Allah dengan segala kebesaran dan kesucian, Dia-lah Allah tuhan yang menciptakan langit dan bumi serta Dialah tuhan yang pada-Nya kita menyembah dan menyerah diri.

Dan kepada-Nyalah (Allah), semuanya menyerah diri baik yang berada di langit dan di bumi sama ada secara sukarela mahupun paksa dan kepada-Nya mereka semua kembali.” (Alil -Imran : 83).


Ketahuilah muslimin sekalian,

Sesungguhnya penciptaan manusia baik lelaki dan perempuan ialah untuk beribadah kepada Allah swt dan menjadi hamba kepada zat-Nya yang Maha Kuasa.

“ Dan tidaklah kami menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadat kepada kami.” (Adz-zariyat : 56).

"Barangsiapa yang mengerjakan amalan soleh, baik lelaki mahupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepada mereka kehidupan yang baik" (An-Nahl:97).

"Barangsiapa yang mengerjakan amalan-amalan soleh, baik lelaki mahupun perempuan, sedang mereka orang yang beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam syurga dan mereka itu tidak dianiayai walau sedikitpun" (An-Nisa':124).

Diriwayatkan dari Muaz bin Jabal ra, bahawa baginda rasulullah salalallahualaihiwasalam pernah bersabda : “ Hak Allah ke atas hamba-Nya ialah kewajipan bagi setiap hamba untuk menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya ,dan hak hamba ke atas Allah ialah untuk tidak mengazab hamba-Nya.” (Hadith Sahih, riwayat Bukhari no.77).

Dimaksudkan dengan menyembah Allah ialah beribadah kepada-Nya dengan kaedah dan jalan yang ditunjukkan oleh Allah swt melalui pertunjuk yang sahih iaitu Al-Qur’an dan sunnah rasul-Nya.

Inilah agama Islam yang dibawa oleh para rasul terdahulu seperti katanya nabi Allah Syuaib as kepada kaumnya yang diabadikan Allah dalam firman-Nya :

“ Dan tiadalah pertunjuk melainkan dengan pertunjuk Allah dan kepada-Nya aku bertawakkal dan kepada-Nya aku kembali” (Surah Hud :88).

Hendaklah menyembah Allah swt itu dengan jalan dan pertunjuk yang dibawa oleh Allah swt melalui para rasul-Nya dan ikutilah serta pegangilah ia sesungguhnya dan janganlah kalian menyalahinya.

" Wahai orang-orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada rasul.." (An-Nisa :59).

" Dan apa-apa yang diperintahkan (ditinggalkan ) oleh rasul maka ambillah (taatlah) dan apa-apa yang ditegahnya maka tinggalkanlah" (Al-Hasyr: 7).

" Dan taatlah kamu kepada Allah dan kepada rasul jika kamu benar-benar beriman " (Al-Anfaal : 1).

"Barangsiapa yang mentaati rasul maka sesungguhnya dia telah mentaati Allah" ( An-Nisa : 80).

Telah bersabda baginda rasulullah kepada kita semua dengan sabdanya yang mulia : “ Aku tinggalkan kepada kamu dua perkara yang jika kamu berpegang padanya tidaklah kamu akan sesat iaitu kitab Allah (Al-Quran) dan sunnah rasulnya.” (Hadith Hasan, riwayat Malik dalam Muwatho no 898, Hakim dalam Mustadrak no.63).

Juga diriwayatkan dari Abd Rahman bin Yazid dari Abdullah ibn Mas’ud ra yang telah berkata
“ Bersedikit dan berpada (beramal) dalam sunnah lebih utama dari bersungguh-sunguh dan banyak dalam bid’ah” (lihat dalam Sunan Darimi no. 217).

Inilah jalan dan pertunjuk yang sahih dalam beribadah iaitu menetap pada pertunjuk sunnah yang dibawa dari Al-Qur’an dan ajaran rasul kepada umat-Nya iaitu para sahabat ra dan dipelihara oleh ummah melalui ilmu dan manhaj yang dikenali sebagai salafus soleh. Dari riwayat Aisyah ra bahawa baginda rasulullah pernah bersabda: “ Sebaik-baik kurun manusia ialah kurun aku berada di dalamnya dan kemudian kurun kedua (Sahabat) dan kurun ketiga (Tabi’ien). “ (Hadith sahih riwayat Muslim no 1965 Jilid 2, Abu Daud no. 44 Jilid 5).

Begitu juga seperti yang disampaikan oleh Sufyan ibn Uyainah dengan berkata aku mendengar Asim berbicara kepada Abu Al-Aliyah dengan katanya “ Tetaplah pada perkara yang awal-awal dipegang dan diperintahkan (oleh para sahabat) sebelum khilafnya ummat”. Dan telah berkata juga Al-Auza’ie “Bersabarlah di atas sunnah dan berhentilah pada apa yang golongan terdahulu berhenti padanya (yakni pada perkara yang para sahabat berhenti dari melakukannya) dan berkatalah dengan apa yang dikatakan oleh mereka (para sahabat) dan berpadalah dengan apa yang mereka merasa cukup (sebagai panduan mereka) dan laluilah jalan salaf soleh.” (Riwayat Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya 143 Jilid 6).

Inilah manhaj dan jalan kita dalam beribadah kepada Allah sebagai golongan yang beriman kepada Al-Qur’an dan sunnah. Kita mentaati Al-Qur’an sebagai kalam Allah dengan menyakini ianya lengkap dan sempurna sebagai panduan dalam kehidupan.

“ Dan tidaklah kami tertinggal dalam Al-Quran itu akan sesuatu (melainkan telah kami terangkannya) dan kepada tuhanlah mereka akan dihimpunkan .” (Surah Al-An'am : 38).

Lalu bukankah Al-Qur’an juga memerintahkan kita supaya mentaati rasulullah dan menuruti sunnah dan perintah serta panduannya ?

" Dan apa-apa yang diperintahkan (ditinggalkan ) oleh rasul maka ambillah (taatlah) dan apa-apa yang ditegahnya maka tinggalkanlah" (Surah Al-Hasyr: 7).


" Wahai orang-orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada rasul.." (An-Nisa :59)

Bukankah mentaati rasulullah, menuruti sunnahnya itu sebagai tanda keimanan ?

" Dan taatlah kamu kepada Allah dan kepada rasul jika kamu benar-benar beriman " (Surah Al-Anfaal : 1).

Juga bukankah dengan mentaati rasul dan menuruti sunnahnya itu sebagai tanda bahawa kita telah mentaati Allah dan menurut perintah-Nya di dalam Al-Qur’an ?

"Barangsiapa yang mentaati rasul maka sesungguhnya dia telah mentaati Allah" (Surah An-Nisa : 80).

Maka wahai umat Islam, berimanlah kalian kepada ayat Al-Qur’an dan sunnah rasul kalian yang disampaikan oleh Allah swt dengan jalan yang terpelihara oleh ummah dan ulama’ yang mewarisi kenabian.

Sunnah rasul kalian itu bukanlah dari hawa nafsunya sebaliknya ialah wahyu kenabian yang dibimbing oleh tarbiyah Allah.

“Dan tidaklah dia (Muhammad) berkata menurut hawa nafsunya sebaliknya apa yang telah diwahyukan kepadanya” (An-Najm : 3).

Demikianlah dalam hadith yang sahih baginda rasulullah bersabda : “Bukankah aku ini diberikan oleh Allah akan Al-Qur’an dan sesuatu yang sepertinya ? (iaitu sunnah)” (hadith sahih riwayat Abu Daud no. 4604 dan Ibn Majah).

Bahkan secara jelas dalam hadith Abdullah ibn Amr bin Al-Ash ra yang selalu menulis sabda baginda dan meriwayatkan hadith baginda pernah ditegur oleh para sahabat yang lain mengenai perbuatan beliau dengan kata mereka baginda rasulullah itu manusia biasa ada kalanya menuturkan sesuatu yang bukan dapat dibuat panduan maka lalu beliau (Abdullah ibn Amr bin Al-Ash ra) bertanya kepada rasulullah dan dijawab oleh baginda: “Tulislah ! Demi Zat yang jiwaku ditangan-Nya tidaklah keluar dari lisanku selain yang benar” (hadith sahih riwayat Abu Daud no. 3646).


Maka ternafilah fitnah kejahilan oleh mereka yang bergerak dan melata di muka bumi namun lebih hina dari haiwan dan binatang serta tumbuhan.

Mereka mengatakan sunnah rasulullah bukan lagi panduan, ianya kalam manusia yang biasa, boleh salah dan silap lalu cukup kita hanya dengan Al-Qur’an sedang Al-Qur’an itu menyuruh kita berpegang kepada sunnah dan panduan rasulullah.

Mereka ini bebas bergerak dan diberi bantuan, mereka mengelar diri mereka ahli Al-Qur’an kerana mereka menolak sunnah dan anti kepada hadith dan sunnah. Maka mereka inilah golongan sesat yang telah kufur kepada Allah dan rasul-Nya dan menyangka mereka lebih bijak dari ulama’ dari sahabat dan salaf soleh ummah.

" Sungguh sangkaan mereka langsung tidak membawa manfaat pada mereka (dalam membawa mereka) kepada kebenaran sedikitpun" (Surah Yunus : 36).

"Dan janganlah kamu mengikut sesuatu yang kamu tidak ketahui kerana Sesungguhnya pendengaran kamu, penglihatan kamu dan hati kamu semuanya akan ditanya dan dipersoalkan." (Surah Al-Isra : 36).

“ Dan Allah mengangkat darjat orang yang beriman dan yang memiliki ilmu beberapa darjat dan Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (Surah Al-Mujadalah :11).

" Dan sebelumnya kamu tidak pun mengetahui apakah itu Al- Kitab (Al-Quran) dan tidak juga mengetahui apakah itu Iman. Tetapi kamilah yang menjadikan Al-Quran itu cahaya dan pertunjuk kepada sesiapa yang kami kehendaki dari kalangan hamba kami." (Surah As-Syura : 52).

Tidakkah mereka berasa risau dimasukkan ke dalam golongan yang menolak sunnah rasulullah ? Sedang baginda salallahualaihiwasalam menyebut dalam riwayat Abu Hurairah dengan sabdanya : “ Setiap Umatku akan masuk syurga melainkan mereka yang mengingkari” Maka sahabat bertanya, siapakah yang ingkar itu wahai rasulullah ? Siapa yang mentaati aku maka dia akan masuk syurga dan siapa yang menderhakai aku maka dialah golongan yang mengingkari.” (Hadith Sahih riwayat Bukhari no. 728).

Setiap umat rasulullah itu selama masih beriman baik yang melakukan dosa atau pun tidak tetap dapat berkunjung ke syurga setelah diazab dan diseksa dan selesai menerima balasan dosa selama mereka masih bertauhid dan beriman kepada Allah dan rasul.

Sabda baginda rasulullah : “ Barangsiapa yang mati dalam keadaan mengetahui bahawa tiada tuhan selain Allah (memiliki aqidah yang benar) maka sesungguhnya dia akan masuk syurga.” (Hadith Sahih, riwayat Muslim no.43 dan Ahmad 69/1).

Namun dalam hadith yang awal baginda menyebut : “ Setiap Umatku akan masuk syurga melainkan mereka yang mengingkari” Maka dari hadith di atas menunjukkan kita bahawa telah kufur golongan yang mengingkari sunnah dan hadith baginda yang terbukti sahih darinya kerana baginda secara terang menyebut mereka tidak akan masuk syurga sedangkan seluruh umat baginda yang beriman akan masuk syurga walaupun melakukan dosa setelah diazab dan selesai menerima hukuman (lihat lanjut dalam kitab Syarah Aqidah Thahawiyah oleh Imam Ibn Abi Izz ra).


“ Barangsiapa yang berbuat kebaikan sesuai dengan apa yang dihidayahkan maka sesungguhnya dia telah membuat kebaikan untuk dirinya sendiri. Dan sesiapa yang sesat maka sesungguhnya kesesatan itu merugikan dirinya sendiri.” (Surah Al-Isra : 15).

" Dan sebelumnya kamu tidak pun mengetahui apakah itu Al- Kitab (Al-Quran) dan tidak juga mengetahui apakah itu Iman. Tetapi kamilah yang menjadikan Al-Quran itu cahaya dan pertunjuk kepada sesiapa yang kami kehendaki dari kalangan hamba kami." (Surah As-Syura : 52).


Wahai muslimin sekalian,

Janganlah kita tidak beribadah kepada Allah sedangkan matlamat kita diciptakan oleh Allah swt ialah untuk menyembah-Nya dan beribadah kepada-Nya.

Ingatilah Allah dalam setiap masa baik di kala waktu berjalan, diam dan suka atau ketika waktu derita.

“Ingatilah kamu akan aku nescaya aku akan mengingati kamu dan bersyukurlah kepada aku dan janganlah kamu kufur kepada aku” (Al-Baqarah : 152).

“Iaitu orang-orang yang mengingati Allah ketika berdiri , duduk dan sewaktu berbaring dan mereka memikirkan kejadian langit dan bumi sambil berkata : Wahai tuhan kami sesungguhnya tidaklah Engkau menjadikan segalanya ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau maka peliharalah kami dari siksaan neraka” (Alil-Imran : 191).

Ketahuilah wahai manusia baik yang masih bujang, sudah bekeluarga, miskin dan hina atau kaya dan mulia bahawa orang yang beriman itu ialah mereka yang sentiasa mengingati Allah dan dan membenarkan perintah Allah dengan mentaatinya serta melakukannya sedaya upaya mereka dan meninggalkan larangan Allah semampu daya mereka.

“Sesungguhnya orang yang beriman itu ialah apabila disebut nama Allah kepada mereka maka gementarlah hati-hati mereka dan apabila dibacakan ayat Allah maka bertambahlah iman mereka itu” (Al-Anfaal : 2).

“Dan bertaqwalah kamu kepada Allah semampu kamu” (surah : at-taghabun :16).

“Sesungguhnya jawapan orang-orang yang beriman, apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka maka mereka menjawab : “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.” (An-Nur: 51-52).


Wahai kaum muslimin sekalian,

Sebagai penutup peringatan dari ana sebagai hamba Allah yang menyampaikan pesan para salaf soleh dan pesan peringatan dari rasulullah maka hendaklah kita semua berpegang kepada sunnah rasulullah dengan sebaik-baik pegangan.
Ingatlah akan hadith dari riwayat Irbad ibn Sariyah ra bahawa baginda rasul salallahualaihiwasalam pernah bersabda : “ Aku berpesan kepada kamu supaya bertaqwalah kamu kepada Allah, dan dengar serta patuhlah kepada pemimpin walaupun dia diangkat dari hamba habsyi. Sesungguhnya sesiapa yang hidup selepas aku pasti akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpeganglah kamu pada Sunnah aku dan sunnah khulafa Ar-Rasyidin yang diberi pertunjuk selepas aku . Peganglah ia (sunnah) sesungguh-sungguhnya sehingga kalau pun kamu terpaksa mengigitnya dengan gigi geraham kamu. Dan berhati-hatilah kamu dengan perkara baru !!! Sesungguhnya setiap perkara baru (dalam agama) ialah bid’ah !!! dan setiap bid’ah itu sesat !!! (Hadith Sahih , riwayat Tirmidzi (no.2676) , Abu Daud (no. 4607) dan Ahmad (no.12561).

Ingatlah, fahamilah, yakinlah dan berimanlah kalian umat Islam kepada sunnah rasulullah dan amalkanlah sunnah dengan kefahaman yang sahih.

Pelajarilah ilmu dari ulama dan fuqaha ummah dan janganlah kalian mengambil ilmu dari mereka yang jahil dan tiada pertunjuk dan berada dalam kesesatan. Iaitu mereka yang menuruti akal fikiran dan fikrah (idea) ilham mereka dalam agama.

“Apakah kamu tahu akan perihal golongan yang mengambil hawa nafsunya sebagai tuhan ?” (Al-Furqan : 43).

Diriwayatkan Abdullah Ibn Mas'ud ra pernah menyebut bahawa “Manusia akan selalu dalam keadaan baik selama mahu mengambil ilmu dari para pembesar ummah iaitu ulama' mereka dan jika mereka mengambil ilmu dari As-shaghir dan buruk, mereka pasti hancur.”

Mereka yang dimaksudkan sebagai As-shaghir adalah ahli bid’ah seperti yang diriwayatkan Ibnul Abdil Bar, bahawa Abdullah bin Mubarak ditanya, “Siapakah Ashaghir itu ?”. Dia menjawab,”Orang yang berbicara dengan ra’yu (akal & menafsir sendiri tanpa merujuk dalil). Adapun orang yang mengambil ilmu dari pembesar ummah (Ulama') bukan termasuk As-shaghir ” (Lihat Ibn Abd Bar' dalam Jami’ Bayan al Ilmi, m/s 248).
Juga diriwayatkan Ali bin Abi Thalib ra pernah berkata, " Lihatlah dari mana kamu mengambil ilmu kerana ilmu adalah agama.” ( Lihat Al Khatib Al Baghdadi, dalam At Tankil, m/s 121). Pernyataan ini dinukil dari beberapa ulama salaf yang lain seperti Ibnu Sirin Adh Dhahak bin Muzahim dan yang lain ( Lihat Syarah Shahih Muslim m/s 14 Jilid 1 , Sunan Ad Darimi m/s 124 Jilid 1) .

Ketahuilah wahai saudara muslimin sekalian,

Bukanlah ulama’ mereka yang membaca buku-buku fikrah (idea) harakah dan semangat dari ulasan beberapa orang manusia yang menulis tentang agama sedangkan dia bukanlah ulama’ dan mengetahui kaedah dan manhaj ilmu Islam.

Lalu golongan ini menulis mengenai jihad, mengenai dakwah, mengenai harakah, mengenai isu-isu Islam dan perkara besar dalam Islam sebaliknya juga bukanlah ulama itu sepatutnya beku dengan ilmu yang hanya ada di kitab tanpa memahami waqi dan situasi umat Islam semasa dan seharusnya mereka mampu beramal dan mengamalkan sunnah menurut situasi dan keadaan yang ada.

Dan Allah mengangkat darjat orang yang beriman dan yang memiliki ilmu beberapa darjat dan Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (Surah Al-Mujadalah :11).

Sabda rasulullah : " Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan baginya Maka Allah akan memberikannya kefahaman dalam urusan agama." (Hadith Sahih, Muttafaqun Alaih –Disepakati oleh Bukhari no. 3116 & Muslim no. 1037).

Permasalahan umat Islam hari ini ialah kerana mereka enggan kembali kepada pertunjuk sunnah dan ingin kekal dalam kejahilan dan pembahruan bid’ah dalam agama tanpa ingin merasa cukup dengan sunnah dan terpedaya oleh godaan dunia.

Telah berkata Sufyan As-Sauri bahawa “ Bid’ah lebih disukai oleh Iblis dari maksiat kerana maksiat manusia akan bertaubat darinya sedang bid’ah manusia akan merasa tidak bersalah dan berterusan melakukannya.”. (Sila lihat Hilyatul Auliya oleh Abu Nu’aim m/s 26 Jilid 7).

Bid’ah dari sudut bahasa bererti “Memulakan sesuatu atau mencipta sesuatu tanpa pernah ada contoh atau teladan tentangnya.” (Mu’jam Muqayis Al-Lughah no.209 Jilid 1), (Fathul Bari 253 Jilid 13). Sebahagian mengatakan ianya sesuatu yang tiada asal juga ada mengatakan ianya ialah perekaan sesuatu yang baru tanpa pernah dicipta sepertinya atau diketahui sepertinya (Lihat Al-Ainul lil Khalil bin Ahmad 54 Jilid 2).

Bid’ah dari sudut ta’rifan istilah fuqaha secara umum ialah “ Mengadakan sesuatu yang baru dalam agama yang seakan-akan perkara agama dengan maksud dibuat untuk mendekat diri pada Allah swt”.(Sila lihat Imam Syatibi dalam Al-I’tisom no.37).

Juga disebut oleh Imam Ahmad bin Hajar Al-Haisami “ Bid’ah ialah apa yang tidak dibina berasaskan dalil syar’ie…” (Al-Fatawa Al-Hadisiyah,m/s 281).

“Sesungguhnya hari ini telah aku sempurnakan pada kamu akan agama kamu dan aku sempurnakan nikmatku pada kamu dan aku meredhai Islam sebagai agama kamu.” (Surah Al-Mai’dah : 3).

Pada hari ini, manusia dalam berdakwah, berjihad mereka tidak menurut sunnah, sebaliknya suka menurut fikrah manusia dan idea pihak tertentu yang lahir dari ilham, pemahaman dan buah fikiran bukan kepada wahyu, sunnah dan kefahaman ilmu salaf soleh.

Maka inilah bid’ah yang membahayakan dan mengakibatkan umat Islam kerugian dalam perjuangan menegakkan Islam. Malang sekali apabila para ustaz dan ustazah, para ilmuan dan cendiakawan, golongan intelektual Islam lebih menyukai perjuangan Islam yang berkonsepkan fikrah dan jemaah sehingga mewujudkan perpecahan di kalangan ummah.

Mereka menuruti individu tertentu dan tokoh manusia dari kalangan jemaah dan pertubuhan dakwah Islam yang telah lama meninggal dunia sedangkan perjuangannya sudah berlalu yang tinggal hanya doa dan kenangan. Jalannya ada yang benar dan ada yang salah sebagai manusia ianya fitrah lalu cukuplah kita jadikan sebagai sampingan dan ambil sunnah sebagai dasar dan panduan.

“Janganlah kamu menjadi seperti orang yang musyrikin iaitu mereka yang BERPECAH-BELAH dalam agama mereka dan setiap HIZBI (golongan, parti, jemaah) itu bergembira dengan apa yang mereka punyai” (Surah Ar-Rum 31-32).

Dalam hadith baginda dari riwayat Abdullah ibn Mas’ud bahawa baginda salallahualaihiwasalam pernah bersabda yang bermaksud “ Aku bersama kamu di telaga Al-Hau’d ketika para malaikat menghambat sekumpulan dari umat aku dan aku mengenali mereka dari ummat aku, maka aku berkata kepada tuhan (Allah) Wahai tuhan mereka umatku, maka dijawab Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang telah mereka perbuat selepas kematianmu (yakni mereka telah menyeleweng, berbuat bid;ah). (Hadith Sahih disepakati Bukhari no. 6576 & Muslim no. 2257).

Kembalilah kepada As-Sunnah dan bersamalah dengan golongan Ahlul Sunnah Wal-Jamaah seperti mana di sebut dalam hadith baginda yang diriwayatkan oleh Ibn Umar ra yang bermaksud “ Akan datang kepada umatku perkara seperti yang pernah menimpa kaum bani Israel , selangkah demi selangkah sehingga akan berlaku dikalangan mereka yang berzina dengan ibunya secara terang-terangan. Sehingga ada umatku akan melakukan sedemikian. Sesungguhnya umat bani Israel berpecah kepada 72 golongan dan akan berpecah umatku kepada 73 golongan dan kesemuanya di neraka kecuali satu golongan. Maka bertanyalah para sahabat ra siapakah golongan yang satu itu wahai rasulullah ? Maka jawab baginda “ Golongan yang aku berada di dalamnya dan para sahabatku .” (Hadith Hasan, riwayat Tirmidzi no.26 Jilid 5, Hakim no.218 Jilid 1).

Hendaklah kita berada dalam kelompok Ahlul sunnah wal Jamaah baik dalam hal aqidah, ibadah, amal dakwah, jihad dan harakah serta kehidupan kita menuruti pertunjuk sunnah rasulullah salallahualaihiwasalam dalam perkara keagamaan.

Adapun urusan kehidupan umumnya dan aspek sosial yang tidak berkait dengan agama maka tidaklah mengapa kita menjadi kreatif, inovatif dan bijaksana mengatur apa yang terbaik untuk dunia kita.

"Belum tahukah kamu, bahawa sesungguhnya Allah telah memudahkan untuk kamu apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi; dan Dia telah sempurnakan buat kamu nikmat-nikmat-Nya yang terlihat mahupun yang tidak kelihatan." (Luqman: 20).

“ Dan tidaklah dijadikan pada agama ini sesuatu yang menyusahkan” (Surah Al-hajj: 78).

Cukuplah kita pada pertunjuk dari sabda baginda rasulullah : “Perkara yang Halal itu ialah apa yang dihalalkan oleh Allah dalam kitab (Al-Qur’an) dan apa yang haram itu ialah apa yang diharamkan oleh Allah dalam kitab-Nya dan apa yang didiamkan olehnya maka ianya termasuk apa yang dimaafkan kepada kalian” (hadith hasan riwayat Tirmidzi no. 1726, Ibn majah, Hakim).

Juga sabda baginda rasulullah : “Sesungguhnya agama ini ialah mudah dan tidaklah yang (sengaja) menyusahkan dirinya dalam hal agama ini melainkan dia akan dikalahkan (tidak mampu)” (hadith sahih riwayat bukhari syarah ibn hajar jilid 1 m/s 93).

“Katakanlah; jika kamu benar-benar cintakan Allah maka ikutlah aku (rasul) maka Allah akan mencintai kamu dan mengampuni dosa kamu dan sesungguhnya Allah Maha Pengasih” (Alil-Imran –31).



وصلي الله علي نبيِّنَا محمد وآله و صحبه والتابعين لهم باِحسن إلي يوم الدين والحمد لله الرب العالمين.

…………………………………………….

Berikut ialah soalan-soalan yang ditujukan dalam kuliah dan petikan isi jawapan secara ringkas (jawapan dalam kuliah panjang tapi diringkaskan di sini maka sesiapa yang berhasrat mengetahui jawapan dengan lanjut sila ke http:yahoogroup/ pandangan seorang ustaz.com dan dapatkan dalam download mp3 kuliah ustaz emran)

1) Siapakah yang berhak mentafsir Al-Qur’an dan apakah untuk menterjemahkan makna hadith dan sunnah juga memerlukan kepakaran khas ?

Isi jawapan :

Sememangnya Al-Qur’an itu diturunkan kepada semua hamba Allah swt untuk difahami dan ditadabur serta diambil pelajaran darinya oleh setiap umat Islam dan mereka yang kafir supaya kembali kepada ajaran yang benar.

Tidak benar jika dikatakan Al-Qur’an itu hanya khusus untuk para ulama’ dan orang ramai tidak boleh mengambil pengajaran dari Al-Qur’an dan tidak benar orang ramai mesti taqlid buta kepada ulama dan menuruti apa sahaja tafsiran dari kitab Allah tanpa ilmu.

Juga lebih-lebih tidak benar Al-Qur’an itu boleh ditafsir sesuka hati oleh sesiapa sahaja tanpa ilmu dan tidak benar setiap orang boleh berfatwa dengan Al-Qur’an tanpa ilmu kerana ianya kesesatan maka ianya salah dan berdosa.

Dari riwayat Ibn Abbas ra bahawa baginda bersabda :“Barangsiapa yang mengatakan sesuatu perihal Al-Quran dengan menggunakan akalnya atau dengan apa yang tidak diketahuinya maka bersedialah dia dengan tempat di neraka.” (Hadith hasan, riwayat Ibn. Jarir 34 Jilid 1 & Tirmidzi no. 2950).

Oleh yang demikian jawapan ahlul sunnah dalam hal ini ialah menetapkan bahawa sesiapa yang dapat memahami isi kandungan Al-Qur’an dengan ilmu dan pemahaman yang sahih menurut kehendak sunnah yang mentafsirkan Al-Qur’an maka bolehlah dia mengamalkan Al-Qur’an namun untuk memberi fatwa dan berhukum dengan Al-Qur’an dan mentafsir isi kandungannya untuk orang lain maka hendaklah mereka itu ulama dan memiliki kemahiran dan ilmu yang mencukupi.

Dari riwayat Mujahid ra yang pernah berguru dengan Ibn Abbas ra berkata “ Tidak halal bagi sesiapapun yang beriman kepada Allah dan hari akhirat untuk berkata sesuatu perihal Al-Quran sedang dia tidak menguasai bahasa arab.” (lihat Mabahis Fi Ulum Quran m/s 302 ).

Selain memahami usul tafsir, fiqih dan usulnya, mengetahui dan memiliki kemahiran bahasa arab dan sasteranya. Mereka juga harus mempunyai kekuatan dalam hadith dan ilmunya serta mengetahui kaedah dan memiliki kemahiran dan kelebihan dalam pemahaman terhadap uslub dan gaya bahasa Al-Qur’an.

2) Salahkah kita memahami hadith pada makna umum ?

Isi Jawapan :

Memahami sunnah dan hadith hendaklah dengan ilmu seperti Al-Qur’an dan mengetahui makna hakikatnya yang dikehendaki oleh penuturnya iaitu rasulullah salallahualaihiwasalam dengan meneliti isi sunnah dan hadith yang lain yang menerangkan makna hadith tersebut atau isi Al-Qur’an.

Jika tidak maka para ulama akan melihat kepada asar dan riwayat dari para sahabat yang memahami sunnah dengan pemahaman dengan sebaik-baik pemahaman.

Tidak benar dan salah jika kita hanya memahami hadith pada makna umum walaupun pengajaran itu pada makna umum namun jika dalam permasalahan hukum dan dijadikan pengamalan maka hendaklah memiliki kaedah ilmu hadith.

Pertama memastikan kesahihan sanad hadith dan hukum hadith itu maqbul (diterima) untuk diamalkan iaitu sekurangnya hasan lighairih dan tidak mengambil yang dhaif kerana agama Islam ini hujjah dan hadith dhaif tidak dapat dijadikan hujah.

Kedua hendaklah dilihat apakah hadith itu dimaksudkan kepada sesuatu yang umum atau khusus dan ianya tidak disalah gunakan tanpa menurut maksud yang sebenar.

Contohnya pada hadith dari riwayat Umar Al-Khatab ra yang menyebut bahawa rasulullah salallahualaihiwasalam pernah bersabda : “ Hendaklah Kamu berada dalam jamaah dan jauhilah kamu dari perpecahan sesungguhnya syaitan itu bersama seorang dan menjauh apabila berdua dan barangsiapa yang menginginkan tempat tinggal di syurga maka hendaklah berada dalam jemaah” ( Hadith Sahih riwayat Tirmidzi, Ibn Majah dan Humaidi).

Dari Huzaifah al-yamani ra akan hadith yang berbunyi : “Hendaklah kamu beriltizam dengan jemaah umat Islam dan kepimpinannya” (hadith sahih riwayat bukhari dan Muslim).

Serta apa yang disebut oleh hadith yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah secara marfu dalam Sahih Muslim yang menyebut : “ Barangsiapa yang keluar dari ketaatan kepada kepimpinan umat Islam dan memecah belahkan jemaah (masyarakat Islam) maka matinya merupakan kematian jahiliyah” (hadith sahih riwayat Muslim).

Hadith-hadith di atas kerap disalah gunakan oleh para ustaz yang belum cukup ilmunya, para pengerak dakwah dengan memutar belit makna hadith dengan menyimpulkan bahawa menyertai jemaah yang ditubuhkan oleh mereka dan organisasi tanzim mereka sebagai wajib sedangkan maksud hdith di atas bukanlah jemaah atau organisasi yang dicipta atau ditubuhkan oleh mana-mana umat Islam.

Maksud hadith di atas seperti yang dijelaskan oleh Imam Al-Hafidz Mubarakfuri dalam kitabnya Syarah Jami’ Tirmidzi Tuhfatul Ahwazi mensyarahkan hadith ini dengan menyebut dalam hadith ini ialah bermaksud menetapkan diri bersama kepimpinan masyarakat Islam kerana Islam itu ialah sudah merupakan sebuah jemaah dan dalam riwayat Khalid bin Sabi’ di sisi Tibrani menambah apabila kamu melihat Khalifah maka taatilah dan apabila tiada khalifah maka berperanglah ( Sila lihat Tuhfatul Ahwazi m/s 385 Jilid 6).

Sesungguhnya hadith di atas menjadi fitnah apabila disalah maksud sehingga berpecah- belah umat Islam yang asalnya sudah satu jemaah di bawah aqidah dan kalimah tauhid. Apabila masing-masing mendakwa jemaah dan hizbi merekalah yang wajib diintima dan disertai sedangkan mereka telah berdusta dan berbohong dengan hadith baginda tanpa ilmu.

"Dan jangan kamu berani mengatakan terhadap apa yang dikatakan oleh lidah-lidah kamu dengan dusta; bahwa ini halal dan ini haram, supaya kamu berbuat dusta atas (nama) Allah, sesungguhnya orang-orang yang berani berbuat dusta atas (nama) Allah tidak akan dapat bahagia." (an-Nahl: 116)

Sedang baginda Salallahualaihiwasalam bersabda :" Berhati-hatilah kamu terhadap apa yang disampaikan dari aku melainkan kamu mengetahuinya (akan kebenarannya)” (Hadith Hasan, Riwayat Tirmidzi, Abi Syaibah dan Ahmad).

Kesimpulannya hendaklah memahami hadith dan sunnah menurut ilmu dan pemahaman para salaf soleh yang mengetahui akan maksud sebenar dan berada dalam pertunjuk sunnah.

3) Apa pandangan ustaz terhadap jemaah Ikhwan Muslimun ? Hassan Al-banna ? Syed Qutb ? Dr Yusof Al-Qaradhawi ?

Jemaah Ikhwanul Muslimin pada sejarahnya ditubuhkan sebagai sebuah badan dakwah dan As-Syahid hasan Albanna semoga Allah memberkatinya menceritakan tujuan penubuhannya dalam bukunya “Risalah ta’alim” dan lain-lain sebagai sebuah gerakan yang akan menegakkan khilafah Islamiyah dan memperjuangkan Islam dengan perjuangan yang sahih untuk menentang jahiliyah dan menegakkan daulah Islam setelah gugurnya khilafah Islamiyah di Turki.

Ana sendiri mengagumi dan menghormati tokoh ikhwan muslimun sebagai pejuang Islam yang berhak menerima penghormatan dan doa dari kaum muslimin seperti Hasan Albanna, Syed Qutb ra, Abd Qadir Audah, Abu Ala’ Almaududi dan lain-lain.

Namun organisasi ini semakin lama semakin dipenuhi ta’asub dan taqlid buta serta mula dipenuhi oleh mereka yang ta’asub kepada pemimpin gerakan mereka sehingga mereka mengagung-agungkan tokoh mereka lebih dari para salaf soleh dan ulama’.

Mereka membahagikan ulama kepada dua iaitu yang menyertai mereka dengan mengelar ianya ulama’ haraki yang bergerak berjuang untuk Islam dan ulama yang bukan haraki atau tidak mempunyai fikrah (idea) pemahaman seperti mereka dalam hal dakwah dan perjuangan.

Permasalahan golongan ini pernah disebutkan oleh muhadith terkemuka Syeikh Nasiruddin Albani ra dalam kuliahnya bahawa mereka ini (ikhwan Muslimun) terlalu ta’asub, gopoh, mereka tidak menekankan aspek ilmu dan kefahaman Islam yang sahih terlebih dahulu sebelum berjuang sebaliknya menekankan aspek mengikat ahli dan orang ramai dengan jemaah mereka.

Mereka lebih menekankan aspek wala’, uslub berharakah, menekankan aspek kesetiaan ahli dan mengajar usul 20 ikhwan yang ditulis oleh imam mereka supaya ahli menetap diri dalam jemaah lebih banyak dari mereka mengajar ahli dan orang ramai tentang aqidah yang sahih, tentang ibadah yang sahih, tentang akhlak Islam dan tentang sunnah rasulullah.

Apabila ditegur jemaah ini maka mereka tidak menerima teguran sebaliknya memperlecehkan orang yang menegur dengan berkata “Apa jasa engkau untuk Islam sedang kami walaupun demikian sudah melakukan pelbagai perkara” lalu mereka memperlecehkan ulama rabbani yang menegur mereka dengan katanya mereka yang berdakwah dan bergerak itu lebih baik dari ulama yang duduk diam sahaja tanpa berdakwah”.

Pandangan peribadi ustaz emran,

Tidak mengapa menyertai jemaah ini dan mengambil manfaat namun hendaklah mereka dalam jemaah ini mengetahui dan menjaga adab dan tertib mereka serta memelihara perkara berikut :

a) Tidak ta’asub kepada pemimpin harakah mereka sebaliknya mengikuti dan mematuhi arahan sekadar dalam organisasi dan dalam hal agama hendaklah mereka (umat Islam) mematuhi para ulama’ yang benar ilmunya menurut sunnah dan bukan mereka yang hanya bergelar ulama namun tidak memiliki ilmu,serta mentaati pemerintah kerajaan yang memerintah selama tidak mengarahkan kepada melakukan kejahatan dan jika mengarahkan keburukkan maka janganlah taat dalam hal itu namun tetap tidak menarik ketaatan dalam hal lain yang baik.

Diriwayatkan dari Auf bin Malik ra yang menyebut bahawa baginda rasulullah pernah bersabda :

“ Hendaklah sesiapa yang dibawah kepimpinan pemerintah dan dia melihat pemimpinnya melakukan maksiat maka hendaklah dibenci apa yang dilakukan oleh pemimpin itu dari maksiatnya namun jangan sekali-kali mencabut tangannya dari ketaatan kepada pemimpin itu” (Hadith Sahih, riwayat Muslim no. 1855).

b) Hendaklah berpegang dan memahami bahawa jemaah mereka hanya sebagai badan dakwah dan organisasi tanzim yang mempermudahkan urusan dakwah dan perjuangan Islam bukan sebagai matlamat dan bukan sebagai pokok dasar Islam.

Haram hukumnya jika mereka menganggap jemaah mereka wajib diintima dan wajib diikut oleh orang ramai lalu memaksa para ibu-ibu, wanita dan kanak-kanak dan orang muda serta awam yang lain menyertai dan berbai’ah kepada pemimpin mereka.

Jika mereka melakukan demikian maka jemaah ini haram dan jatuh hukum sebagai salah satu puak khawarij yang terkeluar dari landasan sunnah dan masyarakat Islam yang merupakan sebuah jemaah yang satu.

“ Bersatulah kamu semua di atas tali Allah dan janganlah kamu berpecah-belah” (Ali-Imran : 103).

Selama mereka berdakwah dan menyeru kepada kebaikan maka jemaah ini diterima tetapi jika mereka telah melanggar batasan, mula menyeru orang tidak kepada Islam tetapi kepada tanzim mereka, kepada meramaikan ahli anggota mereka maka mereka sudah lari dari kebenaran dan jemaah mereka sudah menjadi sebuah ajaran baru dan ingin menubuhkan sebuah fahaman fikrah baru dalam Islam dan membunuh sunnah dan ajaran yang dibawa oleh rasulullah salallahualaihiwasalam.

c) Wajiblah mereka menjadikan jemaah mereka hanya sebagai wadah dan tidak membeza-bezakan di antara umat Islam yang lain dengan ahli jemaah mereka. Barangsiapa yang mengadakan bid’ah dengan membeza-bezakan ahli jemaah mereka dengan umat Islam yang bukan ahli jemaah mereka maka hukumnya haram dan dia telah berdosa pada Allah dan rasul.
Sekiranya mereka lebih mengutamakan ahli jemaah mereka dari bukan ahli jemaah mereka yang lain dan menganggap ahli jemaah mereka lebih utama dari umat islam yang lain maka hukumnya berdosa dan hendaklah diperangi mereka dan fikrah ajaran mereka.

Baginda rasulullah pernah menyebut : “Tidak sempurna iman seseorang kamu selagimana dirinya tidak mengasihi saudaranya sepertimana mengasihi dirinya sendiri” (hadith sahih, riwayat bukhari dan Muslim).

“Janganlah kamu menjadi seperti orang yang musyrikin iaitu mereka yang BERPECAH-BELAH dalam agama mereka dan setiap HIZBI (golongan, parti, jemaah) itu bergembira dengan apa yang merka punyai” (Surah Ar-Rum 31-32).

Hendaklah mereka menghormati orang yang bukan ahli jemaah mereka dan tidak membezakan kasih sayang mereka sesama umat Islam, dan tidak berbelah bagi ketaatan kepada pemimpin pemerintah negara umat Islam, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda.

d) Hendaklah jemaah mereka membawa manfaat kepada umat Islam bukan merugikan, atau membawa perpecahan, menambah kesesatan dan bid’ah kepada Islam sebaliknya hendaklah jemaah dan organisasi harakah mereka membantu para ulama’ dalam amal ma’ruf nahi mungkar, membantu kerajaan dan pemerintah dalam menyatukan rakyat dan masyarakat dan menjaga keamanan, menolong sesama umat Islam, memupuk dan menyemai tarbiyah Islam dalam bimbingan dan panduan sunnah.

Sekiranya jemaah mereka yang ada hari ini menjaga hak-hak di atas dan melaksanakan Islam dengan pertunjuk sunnah yang sahih maka digalakkan kepada umat Islam supaya meramai-ramaikan diri menyertai gerakan harakah ini dan sekiranya sebaliknya mereka tidak melakukan hal demikian dan melanggar hak dan batasan sunnah maka hendaklah dijauhi dan ditentang gerakan mereka.

Walalhualam.

4) Bukankah hikmah itu barang kehilangan orang mukmin dan jika kita menjumpainya maka kita boleh mengambil manfaat darinya seperti dalam sebuah hadith lalu bukankah demokrasi dan hizbi politik itu dibolehkan dan bukankah dalam Al-Qur’an menyebut hizbullah iaitu parti Allah ?


Hadith yang menyebutkan bahawa hikmah itu barang kehilangan orang yang beriman ialah dari riwayat Abu Hurairah ra dengan katanya telah bersabda rasulullah : “Kalimah hikmah itu ialah barang kehilangan orang yang beriman dan di mana sahaja kamu menjumpainya maka kamu berhak memilikinya”.

Hadith ini isnadnya dhaif jiddan dan ianya pula gharib asing iaitu dhaif pada perawi dan matannya dan perawi dalam hadith ini iaitu Ibrahim ibn fadhl Al-mahkzumi itu hadithnya dhaif dan buruk hafalannya. (hadith ini terdapat dalam sunan tirmidzi no 2687).


Adapun pada masalah parti Allah iaitu hizbullah dalam firman Allah swt : “Barangsiapa yang mentaati Allah dan rasul-Nya dan orang-orang yang beriman maka mereka itulah hizbullah (iaitu golongan yang Allah bersama dengannya) dan golongan yang Allah bersama dengannya itulah golongan yang berjaya” (Al-Maidah : 56).


Ayat ini bukanlah menunjukkan hizbullah itu parti politik yang Allah berada sebaliknya menunjukan golongan yang Allah bersama dengan mereka iaitu golongan yang beriman dan bersama dalam perpaduan dan kesatuan jemaah masyarakat tanpa berpecah dan menegakkan Islam haknya di dalamnya.


Demokrasi bukanlah dari Islam dan ianya dari system acuan kufar dan Demokrasi itu bukanlah syura dan Islam menerima syura dan khilafah bukan pemerintahan beraja atau system berparlimen yang jauh dari kebenaran.


Sesiapa yang benar-benar memahami siyasah syar’iyah akan mendapati syura berbeza dengan demokrasi walaupun pelajar muda yang belajar di kuliah siyasah syar’iyah di Jordan mengatakan wujud persamaan namun itu hanya dari kejahilan.


“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (agama Islam) dan janganlah kamu bercerai-berai; dan kenanglah nikmat Allah kepada kamu ketika kamu bermusuh-musuhan (semasa jahiliyah dahulu), lalu Allah menyatukan di antara hati kamu (sehingga kamu bersatu-padu dengan nikmat Islam), maka menjadilah kamu dengan nikmat Allah itu orang-orang Islam yang bersaudara” (Ali-Imran : 102).


Lain-lain soalan boleh didapati dalam laman pandanganseorangustaz yahoogroup insyaAllah.




Kaedah Memahami ayat Al-Qur'an yang bercanggah



Pada beberapa hari yang lalu, ana mendapat satu lagi persoalan dari seseorang yang bertanyakan mengenai ayat-ayat al-qur’an yang dikatakan sebagai bercanggah antara satu sama lain.

Benarkah ayat al-Qur’an yang merupakan mukjizat itu bercanggah ? bagaimana boleh terjadi demikian bukankah al-qur’an ini sebenar-benar perkataan bagaimana ia boleh bercanggah ?

Jawapan sebenarnya ialah tidak wujud percanggahan di dalam al-qur’an dan ayat-ayat al-qur’an sebenarnya tidak bercanggah. Sebaliknya lantaran tidak memahami dengan baik akan ilmu tafsir dan menguasai kemahiran bahasa arab menyebabkan kejahilan menyangka ia seperti bercanggah.

Apabila kita menjumpai ayat-ayat yang kelihatan bertentangan maka adalah salah kita menjadikan salah satu ayat itu sebagai dalil atau hujah untuk menolak ayat yang lain. Ini kerana adalah mustahil wujud pertentangan dan percanggahan di antara ayat al-Qur’an. Ini kerana telah jelas disebut oleh allah swt dalam firman-Nya :


أَفَلاَ َيَتَدَبَّرُوْنَ القُرأَنَ وَلَو كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيرِ اللهّ لَوَجَدُوْا فِيهِ اِخْتِلاَفًا كَثِيرًا

“ Apakah kamu tidak memerhatikan Al-Qur’an ? Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari Allah maka nescayalah mereka akan mendapati padanya percanggahan yang banyak” ( An-Nisa : 82).


Bahkan selain itu, sangat ganjil dan pelik sebuah kitab suci yang dijamin terpelihara dan terjaga oleh Maha Kuasa akan dapat dicemari atau wujud percanggahan dan kesilapan seperti firman Allah swt :

اِنَّا نحَنُّ نَزَّلْنَا الذِّكْرَوَاِنَّالَهُ لحَاَفِظُونَ

“ Sesungguhnya kamilah yang menurunkannya (Al-Qur’an) sebagai az-Zikr (peringatan) dan kamilah yang akan memeliharanya” (Al-Hijr : 9).


Maka dalam hal ini, para ulama tafsir dan pakar al- Qur’an menyebut bahawa tidak wajar wujud percanggahan dan sekiranya didapati secara zahir ayat itu berbeza makna dan bertentangan maka haruslah dilihat dibawah kaca mata ilmu.

Sekiranya secara zahir ianya membawa percanggahan maka sebenarnya ia mungkin sudah dimansuhkan oleh ayat yang selepasnya sebagai salah satu dari kekuasaan Allah demi kepentingan dan kemaslahatan umat Islam seperti firman-Nya :

مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنسِهَا نَأْتِ بِخَيرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا

“ Apa-apa ayat yang kami padamkan atau kami lupakan (darimu) maka kami datangkan (gantinya) dengan lebih baik darinya atau sepertinya” (Al-Baqarah : 106).


Pemansuhan ayat Al-Qur’an dari sudut ilmiah disebut sebagai “Nasakh” dan ia bermaksud dari sudut bahasa sebagai mengantikan atau mengubah.

Manakala dari sudut istilah nasakh bermakna terangkatnya hukum syar’ie dengan hujah syar’ie yang terkemudian yang menyebabkan hujah ini disebut sebagai nasakh dan hukum yang terangkat itu disebut sebagai mansukh.

Apabila sesuatu ayat itu sudah dimansuhkan hukumnya maka ianya tidak lagi membawa nilai hukum jadi tidaklah wujud pertentangan dengan ayat yang lain yang membawa hukum yang lain.

Menurut kaedah ulamak tafsir ialah apabila wujud percanggahan maka hendaklah diusahakan supaya ianya mencapai maksud yang jelas apakah ianya sudah mansuh atau bukan atau mempunyai tafsiran yang lain (Usul Fi Tafsir m/s 46).

Seandainya setelah dilakukan penyelidikan namun tetap kelihatan bercanggah maka hendaklah dirujuk kepada para ahli ilmu kerana mereka akan mampu menyelesaikan hal ini dengan ilmu sehingga terbukti kebenaran firman Allah swt dalam surah An-Nisa ayat 82 bahawa mustahil wujud perselisihan dalam ayat Allah swt.

Sekiranya ayat yang dilihat bercanggah itu tidak ada yang dimansuhkan atau nasakh salah satunya maka penyelesaiannya ialah wujud tafsiran khas dan istinbat pemahaman ilmiah yang perlu dilakukan oleh para ulamak untuk mengeluarkan penjelasan dari Al-Qur’an mahupun as-sunnah.

Contoh-contoh salah faham terhadap pertentangan ayat al-Qur’an sangatlah banyak antaranya ialah :


Firman Allah swt :

ذَلِكَ الكِتَب ُلاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلمُتَقِينَ

Itulah kitab yang tiada keraguan padanya pertunjuk bagi golongan yang bertaqwa” (Al-Baqarah : 2).


شَهرُ رَمَضَانَ الذِي أُنزِلَ فِيهِ القُرآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ

Bulan ramadhan yang padanya diturunkan Al-Qur’an pertunjuk kepada manusia” (Al-baqarah : 185).


Pada ayat awal disebut oleh Allah bahawa hidayah Al-Qur’an itu khusus untuk golongan yang bertaqwa namun pada ayat yang kedua disebut pula bahawa ianya pertunjuk untuk kesemua manusia. Sedangkan taqwa itu satu darjat yang khas dan bukan semua manusia beriman apatah lagi bertaqwa.

Setelah diperhatikan ayat di atas melalui suluhan ilmu, maka para ulamak menyebut bahawa hidayah yang awal ialah pertunjuk khas bagi orang bertaqwa yang membawa maksud Al-Qur’an itu menjadi pedoman bermanfaat dan panduan khas kepada mereka manakala bagi golongan manusia umum Al-Qur’an itu menjadi pertunjuk penerangan dan teladan.

Golongan bertaqwa mendapat manfaat yang lebih dari Al-Qur’an dan pertunjuknya menjadi pedoman hidup mereka adapun golongan manusia awam mereka hanya mendapat pertunjuk Al-Qur’an jika mereka beriman dan Al-Qur’an itu menerangkan kepada mereka akan azab siksa dan nikmat dari perbuatan mereka.

Begitu juga pada firman Allah swt :

اِنَّكَ لاَ تَهْدِي مَن أَحْبَبْتَ وَلَكِنَ اللهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi hidayah kepada sesiapa yang engkau sukai tetapi Allah yang memberi hidayah kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya” (Al-Qasas :56).

وَاِنَّكَ لَتَهْدِي اِلىَ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“ Dan sesungguhnya engkau memberi hidayah kepada jalan yang lurus” (As-Syura : 52).

Ayat di atas jika dilihat secara lahir nampak seperti berlawanan kerana pada awalnya menyatakan bahawa baginda rasulullah salallahualaihiwasalam tidak dapat memberi hidayah kepada sesiapa yang disukainya manakala dalam ayat yang kedua menyatakan pula bahawa baginda diturunkan sebagai pertunjuk ke jalan yang lurus.

Pertunjuk dalam hal ini jika dilihat secara ilmiah, hidayah pertama yang disebut dalam ayat yang awal ialah hidayah khusus atau hidayah taufiq.

Taufiq tidak dimiliki oleh manusia sebaliknya hanya Allah yang memilikinya secara mutlak dan bebas memberi kepada sesiapa yang dikehendakinya seperti firmannya :

" وَمَا تَوفِيقِى اِلاَ بِاللَّهِ عَلَيهِ تَوَكَّلْتُ وَاِلَيْهِ أُنِيبُ (هود : 88"

Dan tiadalah pertunjuk melainkan dengan pertunjuk Allah dan kepada-Nya aku bertawakkal dan kepada-Nya aku kembali” (Surah Hud :88).

bersambung

Wednesday, August 31, 2005

Perkembangan Hadith Di Zaman Selepas Sahabat


Sunnah merupakan pertunjuk kedua selepas Al-Qur’an dan ianya wajib diikuti, penulisan ini ialah sebagai sedikit ulasan dan menjawab persoalan beberapa pihak yang bertanyakan mengenai perkembangan hadith dan era penulisan sunnah.

Sebenarnya penulisan ini bukan untuk menjawab persoalan mereka secara serius kerana saya tidak berhasrat membuat penjelasan ilmiah kepada mereka sebaliknya sebagai teguran mengenai kaedah ilmiah ulama hadith dan menegur pihak tertentu.

Sebenarnya sunnah di zaman rasulullah berperanan sebagai pertunjuk yang diam dan senyap. Ini kerana wujud perintah baginda salallahualaiwasalam secara tegas melarang penulisan hadith dan sunnah seperti sabdanya : “Janganlah kamu menulis sesuatu yang kamu terima daripada aku selain Al-Qur’an. Barangsiapa yang menulis apa yang diterimanya dari aku selain Al-Qur’an hendaklah memadamkannya tetapi tidak mengapa kamu cukup menyampaikan apa yang kamu dengar dari aku (tanpa menulisnya) dan barangsiapa yang sengaja berdusta ke atas aku maka hendaklah bersedia dengan tempat duduknya di neraka.” (hadith sahih riwayat Muslim).

Di jelaskan dalam perintah baginda di atas ialah jangan menulis hadith serta apa yang didengar dari baginda selain dari Al-Qur’an. Ini kerana dibimbangi akan menyebabkan perampuran di antara Al-Qur’an dan hadith serta apa yang selainnya kerana pada zaman tersebut Al-Qur’an di tulis di atas kulit binatang dan daun-daun pokok serta di atas pelbagai lagi dan tidaklah ramai para sahabat yang tahu membaca dan menulis.

Dibimbangi percampuran Al-Qur’an akan menyebabkan keaslian kitab Allah tercemar dan bercampur dengan kalam manusia maka kerana itulah baginda melarang penulisan hadith demi maslahat kepentingan Al-Qur’an.

Bahkan diketahui bahawa pengumpulan Al-Qur’an itu sendiri sahaja baru bermula pada zaman Abu Bakar As-Sidq atas saranan Umar Ibn Khattab ra dan disempurnakan tugas ini oleh sahabat bernama Zaid Ibn Sabit ra selepas berlakunya peristiwa perang Yamamah seterusnya dilakukan pengumpulan semula dan penyelarasan Al-Qur’an di atas mushaf yang satu yang dikenali mushaf usmani pada zaman Khalifah Usman Ibn Affan ra (lihat fathul Bari dan Al-Itqan Fi Ulum Qur’an).

Lalu dimanakah kedudukan sunnah ?

Peranan sunnah seolah dilihat tidak kelihatan dan dilihat bahawa bermulanya pengumpulan As-Sunnah itu sendiri pada zaman tabie’en iaitu ketika era Khalifah Umar Ibn Aziz ra dari Bani Umaiyah yang menjadi khalifah selama 2 tahun lebih dari tanggal 99 Hijrah sehingga 101 Hijrah.

Arahan pengumpulan hadith dan membukukannya dimulakan oleh beliau kepada Gabenor Madinah pada waktu itu yang bernama Abu Bakr bin Muhamad ibn Amr ibn Hazm (wafat 117 Hijrah) dan turut sama memerintahkannya supaya menuliskan hadith dari seorang tabien wanita yang bernama Amrah Binti Abd Rahman ra dengan katanya :

“Tuliskan kepada aku hadith baginda rasulullah yang ada padamu dan dari hadith riwayat oleh Amrah binti Abd rahman sebab aku takut akan hilang dan hancurnya ilmu” (riwayat Ad-Darimy).

Maka atas perintah khalifah maka dikumpulkanlah hadith baik yang dipunyai oleh beliau serta dari tabien wanita itu yang banyak meriwayatkan dari ummul Mukminah Aisyah ra serta beliau (ibn hazm) turut juga mengarahkan Ibn Syihab Az-Zuhri seorang ulama besar Hijjaz (wafat 124 Hijrah) untuk membantu pengumpulan hadith rasulullah salallahualaihiwasalam.

Sebenarnya larangan penulisan hadith di zaman rasulullah ialah tidak berlaku secara mutlak bahkan dalam sebahagian keadaan baginda pernah membenarkan para sahabat tertentu menulis hadith dari baginda seperti dari riwayat Abu Hurairah ra bahawa selepas peristiwa pembukaan kota Makkah maka telah datang seorang lelaki dari Yaman yang bernama Abu Syah yang meminta baginda rasulullah menuliskan hadith untuknya lalu dijawab oleh baginda rasul : “Tulislah kamu sekalian untuknya” (hadith sahih riwayat Bukhari dan Abu Daud no. 3649).

Bahkan pada zaman sahabat juga , sebahagian dari mereka mempunyai naskah tulisan hadith secara peribadi seperti Abu Bakar ra, Umar ra, Usman ra dan Ali ra serta Abdullah ibn Amr bin Al-Ash ra yang pernah ditegur oleh para sahabat yang lain mengenai perbuatan beliau lalu beliau bertanya kepada rasulullah dan dijawab oleh baginda: “Tulislah ! Demi Zat yang jiwaku ditangan-Nya tidaklah keluar dari lisanku selain yang benar” (hadith sahih riwayat Abu Daud no. 3646).

Disebut oleh para ulama’ bahawa keizinan menulis hadith yang diberikan kepada sesetengah sahabat ialah disebabkan mereka mempunyai kemahiran menulis dan kemampuan untuk menjaga tidak sampai tercampur aduknya Al-Qur’an.

Naskah Abdullah ibn Amr Al-Ash ra ini disebut naskah As-Sahifah Sadiqah kerana ianya ditulis langsung dari baginda rasul dan merupakan yang terjamin benarnya dan mengandungi lebih kurang 1000 hadith yang kemudiannya dipelihara dan dijagai oleh keturunannya dan cucunya Amr ibn Syuaib disebut telah meriwayatkan 500 hadith darinya.

Sungguhpun tidak sampai kepada kita naskah As-Shahifah As-Sadiqah ini kepada kita namun hadith-hadith di dalamnya dapat diperolehi melalui kitab-kitab hadith yang lain seperti Musnad Ahmad, Sunan Abu Daud, Sunan An-Nasaie , sunan At-Tirmidzi dan sunan Ibn Majah (lihat Kitab As-Sunnah Qabla Tadwin oleh Muhammad Ajjai Al-Khatib untuk maklumat lanjut).


Demikianlah juga pada sahabat lain seperti Jabir ibn Abdullah Al-Ansori ra yang juga menulis hadith baginda sehingga naskah tulisannya dinamai Shahifah Jabir dan Qatadah ibn Da’amah As-Sudusy memuji naskah ini dengan katanya aku menghafaz shahifah ini lebih dari hafalan ku pada surah Al-baqarah. Di antara tabie yang mempunyai naskah al-hadith ini ialah Humam ibn Munabbih (40 H-131 H) yang merupakan tabien yang banyak mengambil hadith dari sahabat seperti Abu Hurairah ra yang kemudiannya mengumpulkan hadith tersebut dalam satu tulisan naskah yang disebut As-Shahifah As-Sahihah dan disebut di dalamnya memiliki 138 hadith dan kemudiannya semua hadith di dalamnya diriwayatkan oleh Imam Ahmad ra keseluruhannya ke dalam musnadnya dan di ambil sebahagiannya oleh Imam Bukhari ra.


Namun permasalahan penulisan hadith ini ke dalam kitab dan naskah khas hanya dibuat secara persendirian dan sehinggalah ke zaman Khalifah Umar ibn Abd Aziz ra barulah urusan pembukuan hadith di jalankan secara serius ini disebabkan setelah berlakunya zaman fitnah dan pembunuhan, lahirnya Khawarij, Syiah dan beberapa puak sesat yang mendorong para ulamak dan muslihin Islam memikirkan jalan untuk menyelamatkan hadith baginda dengan mengumpulkan hadith yang sahih dan memperkenalkan ilmu isnad atau disebut mustalahah.

Kerana arahan pelaksanaan membukukan hadith itu dilaksanakan oleh Ibn Syihab Az-Zuhri maka disebut bahawa beliaulah yang pertama mengumpulkan hadith secara tersusun. Pada zaman khalifah Abbasiyah muncullah pula golongan ulama seperti Ibn Juraij (150 H) yang mengumpulkan hadith di Makkah, Abu Ishaq (151 H) dan Imam Malik (179 H) yang mengumpulkan hadith di Madinah, Ar-Rabi ibn Syabih (160 H) , Hammad ibn Salamah (176 H) yang mengumpulkan hadith di Basrah dan Sufyan As-Sauri (116) di Kufah serta Al-Auzaie (156 H) yang mengumpulkan di Syam dan lain-lainnya yang nyatanya kebanyakkan mereka pernah berguru kepada Ibn Hazm dan Az-Zuhri.


Manakala selain menumpukan pada usaha menghimpunkan hadith para ulama’ juga mula meneliti hadith- hadith yang sampai kepada mereka dan perawi-perawi yang meriwayatkan hadith. Mereka mula meneliti siapakah perawi hadith, keadaan dan sifat peribadinya, kaedah menerima dan menyampaikan hadithnya, tarikh lahir dan kematiannya, perawi yang meriwayatkan darinya dan yang diriwayatkan olehnya dan pelbagai lagi demi menjaga kesahihan dan kebenaran hadith itu dari kepalsuan.

Maka demikianlah yang disebut oleh Sufyan As-Sauri ra bahawa “Para Malaikat menjaga langit dan para ulamak hadith menjaga dunia dari kepalsuan”. Bahkan sebenarnya kaedah ini iaitu meneliti hadith bermula sejak zaman sahabat ra lagi iaitu seperti yang terdapat dalam kisah Abu Bakr ra pada masalah pewarisan iaitu telah datang seorang nenek tua kepada Abu Bakar ra meminta hak bahagian warisnya lalu berkatalah Abu Bakar ra : Sesungguhnya aku tidak mendapati padamu akan sesuatu dari kitab Allah dan tidaklah aku mengetahuinya wujud pula pada sunnah rasulullah lalu pulanglah sehingga bertanya orang lain”.

Maka bertanyalah beliau kepada sahabat yang lain lalu berkatalah Al-Mughirah ibn Syubah ra bahawa “Aku menghadiri majlis baginda rasulullah dan baginda memberikan seperenam kepada yang sepertinya” lalu berkata Abu Bakar ra apakah ada orang lain yang hadir selain kamu ? Maka berdirilah Muhammad ibn Maslamah Al-Ansori dan berkata seperti demikian lalu diterimalah oleh Abu Bakar raa dan memberikan nenek itu seperenam. (lihat Muwatha no 576 dan Abu daud no 2894, Tirmidzi no 2101 dan ibn Majah ).

Demikianlah terpeliharanya sunnah dan dijagai serta diwarisi ilmu ketelitian hadith dan sunnah ini oleh para sahabat kepada tabien dan mereka iaitu tabie seperti Said ibn Musayyib ra (93 H) , Amir ibn Syarhabil (104 H), Muhammad ibn Sirin (110 H), Al-A’masy (148 H) sewaktu berlakunya fitnah dan pembohongan serta dusta yang berganda kepada sunnah maka berganda dan bergigih jugalah mereka dalam meneliti dan mengetatkan syarat penerimaan hadith dan melakukan penelitian kepada perawi hadith serta sanadnya.

Dari kalangan tabi’ tabien yang berguru kepada tabien seperti Ma’amar ibn Rasyad (153 H), Syu’bah ibn Hajjaj (160 H), Sufyan As-Sauri (161H) , Malik Ibn Anas ( 179 H) mereka ini merupakan tabi tabien yang menjadi pewaris dari tabien dan menulis serta meneliti ilmu jarah wal ta’dil serta mengkaji hal ehwal rawi dan halnya serta menghukumkan mereka dalam soal penerimaan hadith.

Kemudian selepas berlalunya mereka maka datanglah generasi Abdullah ibn Mubarak (181 H) , Yahya ibn said Al-Qathan (189 H) , Sufyan Ibn Uyainah (197 H) yang mewarisi ilmu dan menguasai sunnah dari penipuan.

Kemudian muncul kurun ketiga iaitu zaman Abu Daud At-Thiyalisi (204H) , Yazid ibn harun (206 H), Abd Razak ibn Humam ( 211 H), Abu Asim Al-nabil ( 212 H), Yahya ibn Yahya naisaburi (226H) dan Abu Walid At-Tiyalisi (271 H). Selepas zaman mereka ini maka lahirlah zaman penulisan khusus dalam masalah ilmu rawi dan rijal serta munculnya ilmu jarah wal ta’dil secara terperinci yang mengkhususkan bahagian tertentu dalam ilmu rijal.

Seperti Muhammad ibn Said pengarang kitab Tabaqat (230 H), Yahya ibn Ma’in pengarang kitab Tarikh ( 233 H), Ali Ibn Madini pengarang kitab I’lal ( 234 H), Ahmad ibn hambal pengarang kitab Musnad dan I’lal (241 H), Muhammad ibn ismail pengarang kitab as-sahih dan tawarikh ( 256) , Muslim Ibn Hajjaj Al-Qusairi pengarang kitab Tabaqat dan sahih (261 H), Ad-Darisi pengarang kitab As-Su’alat (255H), Abi Zar’ah pengarang kitab Ad-dua’fa ( 264 H), Abi Hatim Muhamamd ibn Idris ar-razi pengarang kitab I’lal (277 H), Abi Daud (375 H) dan lain-lain.

Demikianlah juga pada zaman selepas itu apabila muncul zaman kurun ke empat iaitu pada zaman Abd rahman An-nasaie ( 303 H), Abu Basyar Muhammad ibn Ahmad ibn Hammad ( 310 H), Abu Ja’far Muhammad ibn Amru (322 H), Abd Malik ibn Muhammad ibn Adi ( 323 H), Abu Muhammad Abd Rahman Abi Hatim (327 H), Muhammad ibn Hibban ( 354 H) dan lain-lain di kalangan ulama sezaman mereka.

Secara kesimpulan sesungguhnya ilmu sunnah yang berkembang melalui perkembangan zaman dan diwarisi oleh ulama sebelumnya kepada ulama selepasnya menjaga keaslian sunnah rasulullah salallahualaihiwasalam dengan berpandukan kepada ilmu isnad dan riwayat yang dikenali sebagai ilmu rijal atau jarh wal ta’dil yang semua ini dikumpulkan dalam ilmu yang disebut mustalahah hadith.

Demikianlah sehingga terputusnya mata rantai ilmu ini pada zaman mutakhir ini apabila para ulama sudah tidak mengenal lagi riwayat yang sahih dan dhaif dan mencampur adukkan di antara hadith yang sahih dan tidak sahih dalam penulisan –penulisan mereka lalu membuat istinbat hukum dan lahirlah fiqih yang pelbagai didasari ta’asub pada mazhab dengan meninggalkan hadith dan sunnah yang sahih dan berpegang kepada hadith dhaif, maudhu’ dan mungkar.

Sesungguhnya sunnah itu terpelihara sehingga ke hari ini dalam kitab-kitab dan tulisan ulama terdahulu salaf soleh yang sampai kepada kita melalui jalan riwayat dan dipelihara di dalam naskah-naskah maktutokh (tulisan tangan) mereka dan disimpan di muzium-muzium dan perpustakaan seluruh dunia.

Sebagai panduan dan nasihat bersama kepada golongan cerdik pandai Islam hari ini yang merangkul Phd, Ma dalam ilmu sunnah dan hadith, mereka perlulah mengenepikan kedudukan dan pangkat taraf title yang mereka miliki sebaliknya perlulah menyibukkan diri dalam debu kitab dan menyemak buku-buku lama tulisan ulama salaf soleh mencari rangkaian sanad dan isnad riwayat yang terputus dan menyusun kembali penulisan para ulamak terdahulu dalam susunan terkini dan mengumpulkan kembali hadith-hadith sahih yang semakin lama semakin menghilang dan memadamkan hadith dhaif dan palsu yang bercambah dalam masyarakat.

Peranan para ulama hadith masa kini dan pelajar hadith :


a) Mempelajari ilmu hadith dan memahiri kaedah para ulama yang berbeza-beza dalam manhaj penerimaan riwayat, penulisan hadith , penghukuman hadith, kaedah penyusunan hadith.


b) Mengetahui dan menyelidik sejarah dan tarikh para ulamak hadith, perkembangan hadith zaman berzaman dan mengkaji waktu terputusnya sanad sesuatu hadith dan kaedah penyampaian kitab dan tulisan ulama terdahulu kepada kita.


c) Melihat dan menyelidik para guru dan murid ulamak hadith, perawi yang meriwayatkan dan diriwayatkan darinya, bilangan hadith, jenis dan kedudukan hadith-hadith tersebut.

d) Mengumpulkan hadith-hadith yang banyak masih belum diketahui dalam kitab-kitab yang masih belum dibuka oleh kebanyakkan orang kerana hadith bukan hanya berada dalam ashab sunnah atau sahihan atau musnad sahaja sebaliknya banyak lagi hadith yang belum dijumpai oleh kebanyakan para pelajar hadith.

e) Menyemak dan melihat sanad, riwayat dan perawi yang meriwayatkan dan berusaha menjelaskan kedudukan perawi serta kedudukan matan hadith dan mencari kesamaan dalam hadith-hadith yang sudah berada dalam kitab yang mashyur dan berusaha menyingkap kesamaran perawi yang dituduh majhul dan berusaha membersihkan hadith waham, hadith dhaif jika mampu dengan jalan riwayat yang lain.

f) Menyusun dan mengumpulkan hadith-hadith yang sahih dalam satu susunan yang memudahkan dan menurut bab dan meneiliti kesalahan cetakan dan kesilapan penulisan dan kecuaian yang berlaku dalam pemindahan hadith.

g) Menyebarkan dan mengalakkan pembacaan dan pengajian hadith oleh para pelajar ilmu agama sebagai asas sebelum menguasai ilmu lain seperti fiqh, usul, tafsir dan lain-lain kerana ilmu hadith merupakan ilmu dasar yang menjadi tapak kepada keilmuan Islam.



Wallahualam

Emran ibn ahmad
Pelajar hadith
San’a Yaman.


Rujukan tulisan :

1) Muqadimah Al-Maudhu’at oleh Ibn Al-jauziyah
2) Ad-Dhua’fa Wal Matrukun oleh Imam Daruquthni ra
3) Tazkirah Al-huffaz oleh Az-Zahabi
4) Manahij Al-Muhadithisin oleh Dr. Said ibn Abdullah
5) Al-Muwatho Imam Malik
6) Sunan Abu Daud tahqiq Syeikh Albani ra

P/s :
Kepada sesiapa yang berminat untuk mendapatkan risalah terbaru ustaz emran berkenaan tajuk sekitar ilmu hadith maka sila emailkan kepada themuslimmail@yahoo.com dengan menyatakan subject : INGIN RISALAH supaya memudahkan..(inbox byk sgt email) dan memberi pengenalan diri secara ringkas dan tujuan untuk memiliki risalah ini ... ianya percuma dengan syarat hanya untuk mereka yang ada asas ilmu hadith dan mempunyai basic ilmu agama.

tajuknya :


1) Muqadimah Rijal Sahih Muslim (menyenaraikan perawi sahih muslim dan biodata ringkas).
2) Muqadimah Usul intinbat hadith & sunnah (kaedah para fuqaha berijtihad dgn sunnah dan hadith).
3) Muqadimah Sunnan & Kitab Hadith (memberikan kaedah memahami sunan dan kitab hadith, istilah yang digunakan dll) .