Saturday, January 09, 2010

Bible Bukan Ayat-ayat Allah


Beriman kepada Kitab-kitab terdahulu merupakan kewajipan bagi setiap umat Islam dan hal ini termaktub di dalam Al-Quran dan As-sunnah sehingga menjadi rukun Iman yang ketiga. Allah SWT befirman akan hal ini dalam banyak ayat antaranya mengenai ciri orang yang beriman itu :

“Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” (Al-Baqarah : 4)

“Katakanlah (Wahai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeza-bezakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". (Al-Baqarah : 136)

“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeza-bezakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat." (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." (Al-Baqarah : 285)

Nabi SAW pernah bersabda : “lman itu ialah bahawa engkau percaya kepada Allah, para MalaikatNya, kitab-kitabNya, para RasulNya, hari Qiamat dan bahawa engkau percaya kepada Qadar baik dan buruk.” (Hadis riwayat Muslim)

Sebagai seorang Muslim, kita wajib beriman dengan kitab-kitab terdahulu yang diturunkan oleh Allah SWT kepada para rasul-Nya.

Walau bagaimana pun kita tidak boleh beriman kepada Bible sebagai ayat tuhan dan mempercayainya sebagai wahyu Allah yang diturunkan kepada rasul-rasul terdahulu disebabkan oleh beberapa perkara.

Pertama : Bible yang ada pada hari ini telah diubah suai dan dihilangkan wahyunya

Allah SWT befirman : “Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat diantara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan solat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam syurga yang mengalir air di dalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.”

Kemudian Allah menyebut lagi : “Tetapi kerana mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebahagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ma’idah : 12-13)

Allah SWT befirman lagi :

“Wahai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami (Muhammad), menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan.” (Al-Ma’idah : 15)

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah : 79)

Bahkan Nabi SAW juga diriwayatkan pernah bersabda : “Sesungguhnya bani Israel menulis kitab dan mengikutinya lalu meninggalkan taurat.” (Hadis riwayat Ad-Darimi dan At-Tibrani, disahihkan oleh Syeikh Al-Albani)

Banyak bukti ilmiah yang telah dibentangkan oleh para pengkaji sepanjang zaman berkenaan kebathilan Bible yang mengandungi perjanjian lama (Old Testament) dan baru (New Testament) serta sudah ramai sekali manusia yang memeluk Islam dari hasil mengkaji perbandingan agama dan mempelajari Islam.

Contoh mudah yang saya boleh bawakan,

Di dalam Old Testament (yang dinisbahkan kepada Taurat) ada menyebut “Orang Israel makan manna y empat puluh tahun z lamanya, sampai mereka tiba di tanah yang didiami orang; mereka makan manna sampai tiba di perbatasan tanah Kanaan.” (Keluaran : 16:35)

Tahukah anda, ayat diatas dinisbahkan kepada Taurat yang mengandungi sabda Nabi Musa a.s sedangkan ketika kejadian di atas Nabi Musa a.s sudah pun wafat.

“Lalu sampailah Yakub kepada Ishak, f ayahnya, di Mamre g dekat Kiryat-Arba h --itulah Hebron i --tempat Abraham dan Ishak tinggal j sebagai orang asing.” (Kejadian : 35 : 27)

Pada zaman Nabi Musa a.s nama Hebron belum lagi dikenali (tidak pernah digunakan langsung) dan hanya dikenali sebagai Hebron pada zaman Yasuq (selepas kematian Musa) ini bermakna ayat di atas tidak termuat di dalam Taurat Musa sehinggalah sekurang-kurangnya pada zaman Yasyuq. Banyak nama –nama dalam Bible adalah nama-nama baru yang tidak wujud dalam zaman asal rasul-rasul itu.

Ini semua bukti kecil ubah suai, tokok tambah para penulis kitab-kitab Bible.

Bahkan bukti jelas Bible bukanlah Kitab Allah SWT ialah apabila di dalamnya terdapat kenistaan dan kejahatan terhadap para nabi-nabi.

Cubalah anda membaca Kitab Kejadian :17 : 30-37.

Di dalamnya ada tercatat : “Pergilah Luth dari Zoar l dan ia menetap bersama-sama dengan kedua anaknya perempuan di pegunungan, m sebab ia tidak berani tinggal di Zoar, maka diamlah ia dalam suatu gua beserta kedua anaknya.

Kata kakaknya kepada adiknya: "Ayah kita telah tua, dan tidak ada laki-laki di negeri ini yang dapat menghampiri kita, seperti kebiasaan seluruh bumi. Marilah kita beri ayah kita minum anggur, lalu kita tidur dengan dia, supaya kita menyambung keturunan
n dari ayah o kita.

Pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur
1 , lalu masuklah yang lebih tua untuk tidur dengan ayahnya; dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun. Keesokan harinya berkatalah kakaknya kepada adiknya: "

Tadi malam aku telah tidur dengan ayah; baiklah malam ini juga kita beri dia minum anggur; masuklah engkau untuk tidur dengan dia, supaya kita menyambung keturunan dari ayah
q kita." Demikianlah juga pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur, r lalu bangunlah yang lebih muda untuk tidur dengan ayahnya; dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun. s

Lalu mengandunglah kedua anak Luth itu dari ayah
t mereka. Yang lebih tua melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Moab; u dialah bapa orang Moab v yang sekarang. Yang lebih mudapun melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Ben-Ami; dialah bapa bani Amon w yang sekarang.” (Kejadian : 17 : 37)

Apakah mungkin seorang Rasul Allah itu meniduri (melakukan hubungan seks) dengan anak-anak perempuannya sendiri demi melangsungkan keturunan ? Apakah Agama Allah ini mengizinkan hal sedemikian ?

Allah SWT befirman :

“Wahai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya?.” (Ali-Imran : 71)

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah : 79)

Kebohongan Bible sangat banyak sekali baik secara kesengajaan, kesilapan teknikal, kesalahan sejarah dan fakta, perbezaan terjemahan dan nisbah, penambahan info baru yang tak pernah wujud sewaktu zamannya dan pelbagai lagi bukti jelas campur aduk dan ubah suai manusia terhadap apa yang dianggap sebagai wahyu Allah SWT itu.



Kenapa Kita Perlu Menolak Bible ?

Kita diwajibkan beriman dengan kitab terdahulu, namun benarkah Bible itu kitab terdahulu telah diperjelaskan oleh Al-Quran itu sendiri. Oleh yang demikian kita tidak boleh menerima Bible sekarang yang merupakan kitab palsu melainkan Bible itu memenuhi standard yang asasi yang disebut dalam Al-Quran.

Sebab Pertama :

Datangkan dahulu nama Nabi Kami, Muhammad atau Ahmad di dalam Bible kamu.

Kita hanya diperintahkan beriman kepada kitab-kitab terdahulu yang di dalamnya secara pasti tercatat nama Muhammad atau Ahmad.

“Iaitu orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang namanya mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya Al Quran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-A’raf : 157)

“Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata." (As-Soff : 6)

Allah SWT menjelaskan bahawa Kitab Taurat yang diwajibkan kepada kita untuk beriman dengannya mengandungi nama Muhammad/Ahmad. Maka selama Bible itu tiada mengandungi nama Nabi kita Muhammad maka ianya bukanlah Taurat dan Kitab Samawi yang diwajibkan kepada kita untuk beriman dengannya.

Sebab Kedua :

Mempercayai Bible bermakna Anda Mendustakan Al-Quran.

Bible yang ada sekarang bukanlah Kitab terdahulu, apa yang diyakini oleh orang Islam tidak wujud di dalam Bible antaranya seperti Firman Allah SWT :

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. Itu telah menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran.” (At-Taubah : 111)

Bukalah di dalam Old Testament dan New Testament (Bible) yang ada di tangan anda nescaya akan anda dapati apa yang disebutkan adalah tidak wujud dalam Bible sekarang.

Jadi jika anda mempercayai Bible sebagai kitab suci atau Kitab Taurat dan Injil maka Anda telah mengatakan Al-Quran berbohong dan berdusta atau tersilap kerana AlQuran menyebutkan dengan jelas apa yang terkandung di dalam Injil dan taurat.

Allah SWT befirman di dalam Al-Quran : “Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” (Al-A’la : 17-19)

Lihatlah di dalam Bible, apakah wujud kenyataan ini bahawa akhirat adalah lebih utama dan lebih kekal ? Jika tiada maka ianya bukanlah Kitab Ibrahim dan Musa sekalipun Bible didakwa merupakan Kitab kumpulan nabi-nabi terdahulu.

Al-Quran menyebut “Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab terdahulu” Maka apakah Al-Quran itu berdusta ? Apakah anda mahu menolak Al-Quran lalu menjadi kafir seperti kaum yahudi dan nasrani ?

Nah, pilihlah kenyataan siapakah yang mahu anda percayai.

Sebab Ketiga :

Bible yang ada sekarang ini menyeru kepada Syirik dan mengatakan Nabi Isa itu Anak tuhan, ajaran semacam ini menjatuhkan seseorang dari Aqidah Samawiyah kepada syirik dan mengeluarkan orang yang mempercayainya dari gelaran Ahli Kitab menjadi Musyrikin yang diharamkan sembelihan dan berkahwin.

Bible ialah kitab syirik.

Allah SWT sangat melarang perkara Syirik : “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya dia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (An-Nisa : 116)

Di dalam Bible ada bukti hal ini :

“Sebab seorang anak telah lahir m untuk kita 1 , seorang putera telah diberikan n untuk kita; lambang pemerintahan o ada di atas bahunya, p dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, q Allah yang Perkasa, r Bapa s yang Kekal, t Raja Damai. (Yesaya :9: 6)

Mereka adalah keturunan nenek moyang kita. Dan mereka adalah keluarga Kristus secara jasmani di bumi ini, tetapi Kristus adalah Allah atas segala sesuatu. Pujilah Dia selama-lamanya. Amin. (Rom : 9 :5)

“Tomas berkata kepada Yesus, "Tuhanku dan Allahku!" (Yohanes : 20 :28)

Banyak bukti dan dalil daripada Bible sendiri dan kepercayaan orang Kristian bahawa mereka menjadikan Nabi Isa a.s sebagai tuhan dan sekutu bagi Allah SWT.

Al-Quran menyebut : “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At-Taubah : 31)

Allah SWT befirman di dalam Al-Quran : “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?." Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib." (Al-Ma’idah : 116)

Nabi Isa menjelaskan lagi di dalam Al-Quran :

“Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.” (Al-Ma’idah : 117)

Tinggalkanlah Bible dan kepalsuannya lalu carilah cahaya dan kebenaran di dalam Kitab Allah SWT yang hakiki, yang di dalamnya terkandung ajaran Zabur, Taurat dan Injil serta ajaran para rasul terdahulu dan merupakan kitab yang lengkap dan terpelihara dari kesesatan serta hidayah dan pertunjuk bagi mereka yang mahu beriman.

Al-Quran itulah Al-Furqan (pembeza di antara yang benar dan salah)

Friday, January 08, 2010

Mesir Mengkhianati Islam Menggunakan Alasan Syarak


Tindakan terkini Mesir yang bekerjasama dengan Israel di dalam menutup sempadan mereka dengan Palestin ternyata merupakan sebuah pengkhianatan besar terhadap Islam dengan menjadikan hujah syarak dan fatwa ulama Al-Azhar sebagai alasan untuk menghalalkan kejahatan mereka.

Fatwa dari Majma’ul Buhuts AL-Islamiyah sebuah badan Universiti Al-Azhar, Mesir baru-baru ini yang mengizinkan dan menyatakan keharusan bagi membina tembok pemisah disekeliling perbatasan di antara Gaza dan Mesir bagi menyekat usaha penyeludupan ternyata sangat mengecewakan umat Islam dan sekaligus menghancurkan kredebiliti badan agama yang disanjungi dunia itu.

Fatwa itu dibuat dengan alasan kononnya untuk menyekat kemasukan barang-barang terlarang seperti dadah, senjata dan barang berbahaya namun hakikatnya tindakan itu memberikan kesan besar kepada umat Islam di Gaza, Palestin dan memenjarakan mereka di negara mereka sendiri.

Dunia mengetahui Mesir-Israel menjalin kerjasama erat khasnya di dalam ekonomi dan tindakan terkini Mesir ini banyak didorong oleh Israel dan disokong oleh Amerika Syarikat dengan merasuah Mesir melalui perjanjian dagang dan ekonomi secara sulit yang menyuntik ekonomi Mesir melalui sokongan pelaburan daripada Israel dan Amerika.

Semuanya kerana wang.

Tindakan Mesir yang menganaiya umat Islam Gaza, Palestin adalah didorong oleh faktor ekonomi dan juga kerana faktor keselamatan negaranya dan takutkan Israel dan persenjataannya yang canggih.


Manakala tindakan para ulama Mesir yang menyokong kerajaan ialah disebabkan faktor kedudukan dan status mereka selain untuk memenuhi tanggungjawab mereka sebagai ulama kerajaan yang menghalalkan dan mengharamkan semata-mata mengikut kehendak kerajaan.

Tindakan dua golongan ini iaitu para umara (pemimpin) dan ulama (alim agama) Mesir ternyata telah bercanggah dengan Al-Quran dan As-Sunnah serta boleh menjatuhkan mereka ke dalam lembah kekufuran.

Para ulama Islam seluruh dunia banyak yang bangkit menentang fatwa karut dan syaitan yang dikeluarkan oleh majlis agama Al-Azhar yang sejak dikuasai oleh kerajaan Mesir ini banyak mengeluarkan hujah-hujah agama yang menyimpang dan mengikut hawa nafsu pemerintah.
Antaranya Syeikh Dr.Yusuf Al-Ahmad, professor syariah di Universiti Imam Muhammad bin Saud Arab Saudi, yang mengeluarkan fatwa pada minggu lalu bahawa haram kepada kerajaan Mesir untuk membangun tembok besi yang akan menyebabkan penderitaan kepada umat Islam di Gaza.

Allah SWT menyebut di dalam Al-Quran : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain saling lindung-melindungi.” Kemudian Allah menyambung dengan menyebut : “jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Anfaal : 72)


Melindungi dan memberi pertolongan kepada umat Islam yang kesusahan adalah sebuah kewajipan syarak yang besar dan bekerjasama dengan kuffar serta berwala (mentaati) mereka adalah membawa kepada syirik dan mengkafirkan perlaku-perlakunya.

Tindakan ulama Al-Azhar yang bodoh dan jahil menghalalkan pembinaan tembok kononnya atas alasan keselamatan Mesir ialah semata-mata hujah bodoh yang bercanggah dengan syarak kerana adalah tidak boleh berfatwa untuk kepentingan nasionalisma Mesir semata-mata lalu mengabaikan kepentingan Islam yang lebih besar.

Nabi SAW pernah bersabda : “Tinggalkanlah Kebangsaan kerana sesungguhnya ianya adalah suatu yang busuk.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Bahkan tindakan Mesir tidak dapat mengabui mata dunia yang mengetahui bahawa melalui perbuatan mereka, Amerika dan Israel telah bersetuju menyumbang sejumlah besar dana kewangan dan bantuan ekonomi yang sekaligus mendedahkan Mesir kepada pengkhianatan menjual saudara seagama mereka di Gaza dengan harga wang ringgit dan ganjaran dunia.

Perbuatan itu menjatuhkan setiap pemerintah Mesir dan ulama yang bersetuju dengan pembinaan tembok tersebut dan condong kepada Amerika dan Israel sebagai kafir dan murtad daripada Islam.

“Wahai orang-orang yang beriman! janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani itu sebagai pemimpin-pemimpin-mu, kerana sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain; Dan barang siapa di antara kamu yang megambil mereka menjadi pemimpinnya, maka sesungguhnya ia adalah dari golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang berlaku zalim.” (Al-Ma’idah : 51)

Di dalam ayat di atas, para ulama menyebut bahawa orang yang berwala terhadap kaum kuffar itu maka mereka termasuk di dalam kalangan mereka yakni menjadi kufur sekali dan dianggap telah mezalimi diri mereka sendiri dengan kekufuran tersebut.

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong (mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah." (An-Nisa: 89)

Hendaklah umat Islam mencontohi perbuatan Nabi Allah Ibrahim a.s yang menjadi bapa kepada umat Islam di dalam beragama.

Allah SWT befirman : “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia ; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiranmu) dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja”. (Al-Mumtahanah : 4)

Saturday, December 26, 2009

Siapakah orang-orang yang berakal ?


Dunia ini penuh dengan kegilaan.

Di sana sini kita melihat bermacam-macam orang dan bermacam-macam ragam manusia.

Ada yang waras dan ada pula yang tidak pada sangkaan kita.

Namun, pernah tak kita bertanya kepada diri kita akan siapakah orang yang benar-benar berfikiran waras dan siapakah pula yang tidak ? Jika tidak pernah maka mungkin patut sudah sampai masanya untuk kita bertanya secara serius di dalam hidup kita ini apakah ciri-ciri seseorang yang waras dan berakal dan apakah pula ciri-ciri orang yang tidak waras dan tidak berakal.

Al-Quran menjelaskan kepada kita tentang ciri-ciri orang yang berakal

Allah SWT befirman : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (Ali-Imran : 190)

Ayat ini menjelaskan bahawa di antara ciri-ciri awal orang yang berakal itu ialah mereka memerhatikan kejadian langit dan bumi, melihat pertukaran siang dan malam serta mengakui kebesaran Allah SWT.

Ciri-ciri mereka itu diperjelaskan dalam ayat yang seterusnya :

Allah SWT befirman lagi “ (iaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali-Imran : 190-191)

Orang yang berakal itu ialah orang yang beriman dan mereka yang tidak beriman adalah tidak berakal.

Ciri-ciri seterusnya orang yang berakal itu ialah mengingati Allah SWT dalam apa jua keadaan mereka baik secara duduk, berdiri dan mahupun berbaring.

Berakal itu bermaksud menggunakan akal untuk mengingati Allah SWT dan mengunakan akal di jalan Allah SWT kerana akal itu adalah anugerah Allah SWT sebagai alat untuk membolehkan manusia berfikir dan membezakan perkara yang baik dan buruk, memahami ayat Allah SWT dan supaya manusia itu mengerti dan menghargai apa yang diberikan kepada mereka di dalam dunia ini hanyalah sementara dan pinjaman yang tidak kekal.

Siapakah yang menghidupkan kita jika bukan Allah SWT ?

Siapakah yang membesarkan kita di dalam perut ibu kita ?

Siapakah yang memberi kita rezeki dan memberi kita makan ?

Siapakah yang menyelamatkan kita apabila kita di dalam kesusahan ?

Amatlah malang apabila manusia yang yang menyangka dirinya bijak dan sibuk dengan dunia dan melakukan pelbagai kerja dan menceburi pelbagai bidang yang dibangganya sebagai usaha bijaksana namun tidak menyedari hakikat kehidupan ini, seperti persoalan dari manakah dia datang, untuk apa dia hidup di atas muka bumi ini dan ke manakah dia akan pergi sesudah mati.

Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Umar, bahawa rasulullah pernah ditanya tentang siapakah orang beriman yang paling bijak ? Lalu dijawab oleh baginda dengan bersabda : “Mereka yang lebih banyak mengingati mati dan lebih baik persediaannya kepada perkara selepas mati, mereka itulah orang yang paling bijak.” (hadis riwayat Ibn Majah)

Ramai saintis, ramai professor , ramai pengkaji, ramai professional di atas muka bumi ini menyombong diri dengan berkata kami tidah mudah percaya kepada dakyah dan khabar agama yang dipenuhi mitos dan lagenda. Kami hanya percaya kepada kajian makmal, kami hanya percaya dengan apa yang terbukti di depan mata namun kita lihat daripada kehidupan mereka di dunia ini dipenuhi oleh siri-siri kegagalan dan kemusnahan hidup yang berterusan.

Malangnya mereka tidak mengambil pengajaran dari apa yang berlaku dalam kehidupan mereka.

Lihatlah mana-mana professional dan cendiakawan manusia yang menolak agama dan tuhan, ke manakah hasil mereka ? Mungkin kita melihat mereka cerdik mampu menyelesaikan teori X dan Y tetapi dimalam hari hidup mereka dipenuhi oleh arak, suntikan dan ubatan dadah, kepala mereka diserabutkan oleh masalah anak, menghadapi krisis rumahtangga dan suami isteri tinggal berasingan, tidak kurang yang bercerai dan hidup dengan kesengsaraan hati dan derita disebalik kemewahan.

Apalah yang dibanggakan di dalam kehidupan mereka ?

Seorang demi seorang kita lihat pakar dan ahli kaji yang cerdik dan bijaksana di dalam ilmu pengetahuan manusia dan jujur hatinya mahu mencari kebenaran telah memeluk Islam dan berbondong-bondong manusia yang mendalami agama ini disudahi dengan menjadi penganutnya dan mengamalkan isi kandungannya.

Kehidupan ini hanyalah sementara, usah dibazirkan dengan melakukan perkara yang sia-sia dan tidak membawa manfaat kepada akhirat. Nabi SAW pernah bersabda yang bermaksud: “ Ramai manusia yang terpedaya dengan dua (jenis) kenikmatan; (iaitu) kenikmatan kesihatan (yang baik) dan kelapangan masa." (Hadis riwayat al-Bukhari )

Kesimpulannya

Jika ingin mengkaji tentang quantum dan fizik, maka kajilah tetapi lakukanlah ia dengan keimanan kepada Allah SWT dan di jalan Allah SWT.

Jika ingin mengkaji tentang tisu dan sel manusia di dalam ilmu biologi maka lakukanlah tetapi laksanakanlah ia dengan keimanan dan untuk manfaat agama Allah SWT.
Pastikan apa yang dilakukan mampu menjadi bekal kepada akhirat.

Janganlah menjadi orang yang bodoh, tersesat dan terhanyut di dalam kehidupan dunia dan kecerdikan buatan sendiri (AI) namun suatu apa pun yang diusahakan olehnya di dunia ini langsung tiada yang membawa manfaat untuk bekal di akhirat.

Allah SWT befirman : “Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling rugi perbuatannya?" Iaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahawa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” ( Al-Kahfi : 103-105)

Oh sangat malang sekali menjadi orang yang sebegitu.

Masa kita adalah terhad jadi ayuh gunakanlah ia di jalan Allah SWT.

Di dalam sebuah hadis Nabi diriwayatkan bersabda yang bermaksud : “Orang yang bijak itu adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal (bekerja) untuk bekalan selepas matinya. (Manakala) orang yang lemah itu adalah sesiapa yang mengikut hawa nafsunya dan kemudian mengharap (pertolongan) Allah.” (hadis riwayat Tirmidzi).

Tuesday, December 15, 2009

Terima Kasih Ya Allah Kerana Memilih Ku


Di dalam kehidupan ini, tidak semua manusia berpeluang untuk menuju ke syurga. Hal ini jelas disebutkan di dalam firman Allah SWT : “Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. Dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka.” (Al-Imran : 10)

“Peliharalah dirimu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Al-Baqarah : 24)

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At-tahrim : 6)

Sebahagian besar manusia sememangnya telah ditakdirkan oleh Allah SWT untuk dijadikan sebagai bahan bakar api neraka dan mereka kekal di dalamnya. Hal ini perlulah difahami bahawa yang menjadikan alam semesta dan tujuh petala langit itu ialah Allah SWT dan itu kehendaknya serta tiada ruang dan alasan untuk kita mempertikaikan urusan-Nya.

Apapun, kita harus bersyukur dan berterima kasih kerana Allah SWT telah memilih untuk berurusan dengan kita apabila dia memberikan kepada kita peluang untuk beramal.


Firman Allah SWT : “Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah kurnia yang amat besar.” (Al-Fathir : 32)

Tidak semua manusia berpeluang berurusan dengan Allah SWT

Firman Allah SWt yang bermaksud : “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (Al-Kahfi : 17)

Di dalam hadis yang sahih ada menyebut bahawa apabila Allah SWT mengehendaki kebaikan kepada hamba-hamba-Nya maka dia akan menguji mereka.

Ujian itu berperanan sebagai “peluang” untuk membolehkan dia mendapat sesuatu kebaikan daripada Allah SWt.

Justeru itu adalah amat pelik dan janggal apabila seseorang itu mengeluh bahawa dia diuji dengan sangat berat jika dia memahami bahawa ujian itu ialah sebagai bonus daripada Allah SWt untuk kebaikan dirinya sendiri.

Allah SWT tidak mendapat apa-apa keseronokkan apabila dia menguji kita

Allah SWT tidak mendapat apa-apa manfaat apabila kita menyembah-Nya

Semuanya balik kepada diri kita, semuanya kembali kebaikan itu kepada kita.

Kita yang beroleh kebaikan tersebut.

Kita diuji untuk kebaikan kita

Kita ditimpa bala bencana untuk manfaat kita

Justeru itu bersabar dan bersyukurlah.

Berjual beli dengan Allah SWT

Ada sebahagian hamba-hamba Allah SWt yang bijak dengan mengambil kesempatan untuk melakukan bisnes (perniagaan) dengan Allah SWT. Mereka ini menjual jiwa dan harta mereka di dunia ini untuk mendapatkan syurga Allah SWT.

Allah SWt befirman : “Sesungguhnya Allah telah membeli daripada orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah : 111)

Allah ialah sebaik-baik Pembeli dan pula sangat Pemurah.

Allah membeli nyawa, harta, anak-anak, suami, isteri, kebahagiaan kita di dunia ini lalu dibayarkan kepada kita dengan syurga-Nya yang mengalir di bawahnya anak sungai yang mengalir jernih.

Bukankah itu satu perniagaan yang menguntungkan ?

Apalah sangat suami kita yang berbau busuk, isteri kita yang suka melukakan hati dan kekasih kita (sohibal qalb) yang gagal melayani kita jika dibanding dengan nikmat layanan syurga ?

Apalah sangat anak-anak kita yang comel itu yang nantinya di akhirat akan melupakan diri kita dan tidak dapat menyelamatkan kita daripada azab jika dibandingkan dengan syurga yang kekal itu ?

Allah befirman : "Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah. " (Luqman : 33)

Apalah gunanya title dan kedudukan, apalah gunanya harta dan kemewahan dunia yang sementara jika dibanding dengan syurga yang kekal abadi ?

Allah mengambil semua itu, lalu mengantikan sesuatu yang lebih baik iaitu syurga…

“Wahai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. “ (As-soff : 11-12)

Bukankah Allah sebaik-baik pemberi janji dan pemberi balas ?

Justeru itu, bersyukurlah…

Jangan berkata untuk mendapatkan sesuatu kebaikan, aku telah membayar harga yang mahal…

Apakah yang mahal ? Kehidupan kita ? Nyawa kita ? barangan yang kita miliki adalah tersangat murah jika dibanding dengan rahmat dan syurga Allah SWT.

Suami kita yang diambil, isteri kita yang diambil, anak-anak kita yang diambil, harta kita yang diambil oleh Allah SWT jika diganti dengan syurga maka ianya adalah tersangat murah.

Dan sekiranya kita terlupa, itu semua pun bukanlah milik kita..

Tetapi hanya pinjaman belaka…lalu jika begitu, sudahlah kita ini dipinjamkan sahaja, sekarang tuan kita itu mahu mengambilnya daripada kita dengan tidak secara percuma tetapi berbayar pula.

Bukankah itu menguntungkan ? Itulah tanda pemurah dan pengasih-Nya.

Sekiranya tidak kerana rahmat Allah SWT, apa yang kita miliki adalah lebih murah daripada haiwan ternak, jika tidak kerana hidayah Allah SWT.

Allah memberikan kita hidayah dan peluang kerana dia mahu berurus niaga dengan kita.

Ayuh marilah menjual dan menggadaikan sebanyak mungkin apa yang kita ada di jalan Allah SWT kerana ganjaran dan bayaran pulangan daripada Allah SWt tersangatlah lumayan.

Terima kasih, ya Allah.. kerana memilih untuk berurus niaga denganKu !

Thursday, December 03, 2009

Apabila cemburu Sudah tiada...


Baru-baru ini saya dikejutkan oleh beberapa email yang bertanya kepada saya berkenaan hukum berzina dan meminta nasihat daripada saya berkenaan kecurangan isteri dengan rakan sekerjanya.

Telah banyak berlaku dan telah ramai yang tahu berkenaan hubungan lelaki dan wanita secara bebas di mana-mana. Bukan sekali dua kita dengar isteri atau suami yang melakukan kecurangan dengan rakan sekerja akibat daripada pergaulan bebas.

Saya hairan sekali dengan budaya Malaysia.

Kami tidak berbuat apa-apa”, itulah slogan utama menghalalkan hubungan lelaki dan wanita yang diharamkan oleh Allah SWT melainkan dengan jalan pernikahan.

Allah SWT befirman : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya dan rahmat-Nya, bahawa Dia menciptakan untuk kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri, supaya kamu bersenang hati dan hidup mesra dengannya, dan dijadikan-Nya di antara kamu (suami isteri) perasaan kasih sayang dan belas kasihan.” (Ar-Rum: 21)

Dijadikan oleh Allah SWT akan sunnah perkahwinan itu sebagai satu-satunya jalan untuk membolehkan lelaki dan wanita saling bemesra dan berkasih-kasihan serta bersenang hati dan bukan selainnya.

Hal ini jelas di sebutkan oleh Allah SWT : “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra : 32)

Larangan berzina bukanlah hanya pada perbuatannya tetapi termasuk seluruh jalan yang boleh membawa ke arahnya. Namun malangnya syaitan itu menghiasi jalan kejahatan dan mengaburi mata manusia sehingga perhubungan haram itu menjadi senang dan memudahkan serta menyenangkan.

Kita lihat hari ini lelaki dan wanita senang bersenda gurau dan mudah bermesra walau tanpa melalui perkahwinan. Melalui pelbagai cara sehinggalah di tempat kerja, di pusat pengajian, di medan-medan perniagaan, di dalam kehidupan realiti dan juga di alam maya.

Suami orang bersenda gurau dengan isteri orang atau dengan anak gadis tanpa ada rasa malu atau segan sehingga kadang-kadang timbul persoalan iaitu di manakah sifat cemburu mereka ?

Sifat Cemburu adalah Wajib dimiliki oleh orang yang beriman kerana lawan perasaan cemburu yang disebut sebagai (ghirah) ini adalah dayus dan hukumnya ialah haram serta berdosa besar.

Ini berdasarkan sabda nabi SAW yang bermaksud : "Tiga golongan yang Allah tidak akan melihat mereka di hari kiamat ialah penderhaka kepada ibu bapa,perempuan yang menyerupai lelaki dan lelaki yang dayus." (Hadis riwayat Ahmad)

Dalam hadis yang lain baginda Rasulullah ditanya tentang apakah erti dayus lalu dijawab oleh baginda nabi dengan bersabda : “Iaitu orang yang tidak mempedulikan siapakah yang berjumpa dengan ahlinya (iaitu isteri dan anak-anaknya).” ( Riwayat At-Tibrani)

Malangnya hari ini kita lihat kaum wanita bebas bertemu sesiapa sahaja lelaki yang disukainya tanpa diketahui oleh ibubapa, suami, wali dan warisnya. Hal ini disebabkan oleh perkembangan zaman moden yang sudah mengalih alih manusia daripada ajaran Islam versi ahlul sunnah wal jamaah.

Ketika saya di tanah arab, saya cukup mengkagumi sifat cemburu bangsa mereka yang begitu besar. Di sana jangankan hendak bergurau senda dengan isteri orang, hendak memandang pun akan akan mengundang ancaman dan celaan.

Hal ini adalah perkara yang terpuji berdasarkan hadis Ubadah bin Somit r.a yang berkata : "Jika aku nampak ada lelaki bersama isteriku, nescaya akan aku pukulnya dengan pedangku", maka disampaikan kepada Nabi akan kata-kata Sa'ad tadi, lalu nabi memberi jawapan balas : "Adakah kamu kagum dengan sifat cemburu yang dipunyai oleh Sa'ad ? , Demi Allah, aku lebih kuat cemburu berbandingnya, malah Allah lebih cemburu daripadaku, kerana kecemburuan Allah itulah maka diharamkan setiap perkara keji yang nyata dan tersembunyi. " ( Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Di Malaysia hari ini, rakan-rakan isteri pun tidak kita kenali, ada pula yang isterinya dihantar pulang ke rumah oleh teman lelaki. Begitulah juga sebaliknya.

Di laman-laman forum maya, lelaki dan wanita boleh bergurau senda tanpa batasan kerana ianya tidak kelihatan jadi suami orang boleh sahaja berhubung dengan para gadis dan sebaliknya isteri orang boleh pula bemesra dengan teman-teman chatting dan rakan forum lelaki secara selamba dan biasa tanpa ada rasa bersalah.

Sekali lagi slogan yang membosankan akan digunakan iaitu : “Kami tidak berbuat apa-apa.”

Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu ialah apabila seseorang hamba itu melakukan apa yang diharamkan oleh Allah.” (Hadis Muttafaq 'Alaihi)

DI dalam Kitab Tuhfatul Ahwazi ada menyebutkan bahawa cemburu itu adalah bermaksud seorang lelaki itu melindungi isterinya dan ahli keluarganya daripada ditemui dan dilihat oleh lelaki bukan mahram.

Maka hendaklah kita mengembalikan umat Islam kepada penghayatan Islam seperti yang dituntut oleh Allah SWT dan rasulnya serta menjauhi takwilan-takwilan mereka yang jahil dan dibesarkan di dalam suasana rosak sehingga menganggap pergaulan bebas dan kerosakkan akhlak hari ini adalah sebagai lumrah yang biasa.

Ada ramai orang sebegini yang merasa tidak bersalah dan tidak mengapa kaum wanita itu bebas bercampur gaul mesra dengan kaum lelaki. Islam ini agama yang memudahkan dan jangan mempersulitkan lalu hasil kerana kejahilan dan takwilan salah mereka terhadap perkara syarak menyaksikan kerosakkan demi kerosakkan yang dilakukan di atas nama Agama.

Berapa ramai pendakwah yang hanyut di atas nama cinta ? Berapa ramai ahli agama yang tersangkut dengan isteri orang dan suami orang ? Juga jangan dilupa bahawa yang kerap kali menggunakan agama untuk kepentingan mereka ialah juga golongan agama termasuk mereka yang bergelar professional agama.

Namun apa boleh buat, mereka tidak merasa bersalah.

Rasulullah SAW pernah bersabda : "Sesungguhnya diantara ajaran yang didapati oleh manusia daripada kalam (perkataan) nubuwwah yang pertama ialah "Apabila kamu tidak malu maka buatlah apa yang kamu suka." (hadis riwayat Bukhari no. 5769)

Perbezaan, kenapa kita sukar menerimanya ?


Masyarakat kita cukup terkenal dengan keseragaman dan kesamaan sehingga disebabkan oleh kesukaan kepada sifat persamaan itu maka kita boleh melihat adanya kesenian “Boria” dan pelbagai adat yang diwarisi turun temurun bagi menjadikan setiap orang memiliki persamaan dengan orang yang lain. Di tanahair, upacara kelahiran diselangi dengan adat bercukur jambul dan kenduri doa selamat. Di samping itu akan ada acara tambahan seperti bemarhaban, berendoi dan seumpamanya.

Selain adat kelahiran, banyak lagi adat yang menunjukkan persamaan orang Melayu seperti adat pernikahan yang menyaksikan wujudnya acara rombongan meminang, menetapkan wang hantaran, acara akad nikah di masjid, acara bersanding sehingga kenduri kahwin yang pasti akan wujud persamaan dengan mana-mana kenduri seperti pemberian bunga telur dan seumpamanya.

Adat kematian pula akan menyaksikan wujud acara tahlil, bacaan yassin, menyiram air mawar ke kubur, kenduri doa selamat dan budaya pemakaian baju kurung dan baju melayu ke tanah-tanah perkuburan.

Semua orang awam biasanya akan melakukannya kerana enggan menjadi berbeza dengan orang lain.

Maka upacara itu dibuat mengikut kemampuan masing-masing, ada yang dibuat secara bermewahan dan ada pula secara beserdehana namun semua orang melakukannya kerana orang lain juga melakukannya dan enggan menjadi berbeza.

Tidak terhad hanya kepada acara dan majlis yang mesti dilakukan, masyarakat kita juga memiliki pakaian yang khusus dan diterima sebagai simbol persamaan seperti pemakaian baju batik pada hari-hari tertentu, warna hitam pada waktu perkabungan, memakai baju melayu dan kain pelikat apabila ke surau dan jubah serta serban apabila terlibat dalam aktiviti ibadah.

Kaum wanita tanah Melayu misalnya cukup terkenal dengan memakai kain telekung putih untuk menunaikan ibadah solat sehingga ke tanah Mekah menunaikan haji dan umrah juga memakai kain telekung bewarna putih.

Berganjak lebih jauh daripada itu kita juga melihat pada hari ini melihat wujud persamaan di dalam aspek kehidupan masyarakat Malaysia yang tidak ingin berbeza dengan orang lain. Perlahan-lahan pengaruh persamaan ini kita lihat memasuki rumah-rumah kita melalui TV apabila semua orang pun mahu memasang astro apabila jirannya memasang astro walau mungkin dia tidak perlu.

Aspek persamaan itu kini sudah menjadi sebuah cara kehidupan kita.

Hal itu bergerak perlahan sehinggalah kepada mentaliti dan pemikiran.

Kita sukar menerima orang yang berbeza cara kehidupannya dengan kita.

Kita payah menerima orang yang pemikiran dan mentalitinya berbeza dengan kita

Kenapakah agaknya begitu ?

Apabila seseorang di kampung kita melahirkan anak dan tidak pula melakukan acara yang sepatutnya dilakukan oleh masyarakat umum maka orang ramai pun mula mengata. Apabila dia bernikah pula maka tidak mengadakan acara yang sepatutnya diadakan maka kata-kata itu akan bertukar pula kepada cemuhan dan pemulauan. Demikianlah juga apabila wujud kematian dan kemalangan jika ada orang yang tidak megadakan kenduri arwah, majlis tahlil dan bacaan yassin maka orang-orang yang berada di sekitarnya tidak akan berasa selesa dengan sikap orang yang berbeza ini.

Hal ini sudah meluas sehingga kepada kanak-kanak, remaja dan juga para pelajar di universiti. Melalui perkembangan dakwah dan pendidikan Islam, para pemuda dan pemudi yang bersemangat agama biasanya akan menubuhkan gerakan dakwah dan jamaah organisasi tertentu di sekolah, di madrasah dan juga di universiti serta pusat pengajian mereka untuk memperjuangkan misi-misi mereka.

Malangnya mereka juga gagal menerima perbezaan.

Apabila ada orang berbeza pendapat, berbeza pemikiran maka orang itu akan dilayan sebagai musuh atau dianggap sebagai persaingan dan cabaran.

Apa Pendirian Islam terhadap Perbezaan ?

Islam ialah agama yang syumul dan merupakan rahmat kepada seluruh alam.

Hal ini dijelaskan oleh Allah SWT

Di dalam firman-Nya yang bermaksud : “Dan tiadalah Kami mengutuskan kamu (wahai Muhammad) , melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (Al-Anbiya : 107)

Perbezaan merupakan fitrah yang dijadikan oleh Allah SWT kepada manusia dan perbezaan itu tidaklah salah di dalam Islam bahkan diterima serta diiktiraf.

Allah befirman yang bermaksud : Sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeza pendapat.” (Adz-Zariyat : 8)

Allah befirman yang bermaksud : “Dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeza-beza.” (Al-Lail : 3-4)

Allah befirman yang bermaksud : “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia itu umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.” (Hud : 118)

Berdasarkan kepada petunjuk Islam, para ulama menyebut adalah merupakan perkara biasa manusia ini berbeza pendapat, budaya dan cara kehidupan dan hal itu merupakan kebebasan serta hak masing-masing untuk berbeza di antara satu sama lain.

Allah befirman yang bermaksud : “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu daripada seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Hujurat : 13)

Di dalam ayat di atas, para ulama tafsir menyebutkan bahawa Allah SWT telah menjelaskan kepada kita bahawa penciptaan manusia ini dijadikan secara berbeza-beza keturunan, berpuak dan bangsa serta jantina dengan matlamat agar kesemuanya boleh bersatu di atas agama Allah SWT.

Kemuliaan itu bukanlah letaknya di atas persamaan acara, pengamalan , adat dan cara kehidupan seharian tetapi sebaliknya merujuk kepada siapakah yang paling bertaqwa kepada Allah SWT di dalam keadaan masing-masing.

Perbezaan ialah hak manusia dan hak tersebut tidak boleh dicerobohi dengan memaksa manusia untuk menerima atau bersama dengan apa yang tidak disukainya.

Hal ini disebutkan di dalam firman Allah SWT : “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (Al-Baqarah : 256)

Perbezaan hanyalah dikeji dan dicela apabila ianya menyelisihi jalan kebenaran dan bercanggah dengan Al-Quran dan As-sunnah.

Selama perbezaan dan menjadi berbeza dengan amalan masyarakat yang tidak mempunyai dasar serta hujah daripada Al-Quran dan As-sunnah maka seseorang itu berhak diberi ruang untuk mengamalkan apa yang memudahkannya dan memberikan keselesaan kepadanya.

Adalah menjadi kewajipan umat Islam untuk mengelakkan diri daripada mencela, mengutuk, membuat cerita, fitnah dan mengumpat serta pelbagai lagi gangguan kepada orang-orang yang memilih untuk menjalani kehidupan yang berbeza dengan kita selama perbezaan itu tidak membawa kepada pelanggaran syarak.

Nabi SAW bersabda : “Muslim sebenar ialah sesiapa yang orang-orang Islam lain terselamat dari kejahatan lidah dan tangannya.” (Hadis sahih bukhari)

Hal ini disebut oleh para ulama Islam seperti Dr Yusof Al-Qaradhawi di dalam bukunya Halal Wa Haram Fi Islam bahawa mengharamkan atau melarang sesuatu yang halal maka ianya adalah berdosa dan boleh terjatuh syirik. Berdasarkan hal yang sedemikian apabila jiran dan rakan kita memilih cara kehidupan yang bercanggah dengan cara kehidupan yang diamalkan oleh masyarakat kebanyakkan maka adalah haknya untuk mendapat ruang dan kebebasan tanpa diganggu.

Apabila kelahiran jika seseorang itu tidak mengadakan acara berendoi, cukur jambul dan adat Melayu yang lain sebaliknya melakukan hanya sekadar bertahnik, memberi nama dan berakikah maka dia berhak dengan perbezaannya itu kerana Islam tidak menghalang perbezaan bentuk ini.

Begitu juga apabila seseorang itu ingin berkahwin dengan meminang tanpa ada rombongan peminangan sebaliknya meminang dengan dirinya sendiri maka itu haknya. Jika sewaktu perkahwinan dan dia hanya mahu berkahwin dengan membayar maskahwin tanpa wujud wang hantaran dan dipersetujui oleh keluarga perempuan maka itu haknya.

Seterusnya apabila selesai bernikah dan setelah ada kemampuan dan kelapangan mahu mengadakan kenduri pernikahan dengan tidak mengikut adat-adat Melayu maka itu haknya. Sekalipun dia ingin menjamu tetamunya itu memakan satey atau makanan segera seperti pizza dan seumpamanya dan bukannya dengan nasi minyak maka itu haknya.

Apabila berlaku kematian dan dia inginkan agar tidak dibuat tahlil, bacaan yassin dan kenduri arwah sebaliknya cukup sekadar menguruskan mayat dan kemudian mahu kembali menjalani kehidupan seperti biasa maka itu juga haknya.

Begitu juga di dalam rumahtangga, pemikiran dan sehinggalah kepada penyertaan kepada jemaah dan aktiviti dakwah yang wujud di sekeliling kita. Jika seseorang itu ingin melaksanakan kewajipan agama tanpa mahu berorganisasi atau berjamaah dengan persatuan dan gerakan yang sedia ada di sisinya maka itu haknya.

Tiada sesiapa yang berhak dan boleh memaksanya selama tiada dalil agama dan syarak yang sah untuk mengajak kepada PERSAMAAN.

Seruan kepada Persamaan dan Kesatuan ialah Hak Milik Mutlak Allah SWT

Ramai orang gagal menyedari bahawa seruan untuk bersama, bersatu dan bergabung diri hanyalah milik mutlak Allah dan hanyalah dapat dilakukan di bawah perintah Allah SWT.

Allah SWT berfirman : “Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang sama di antara kami dan kamu, bahawa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebahagian kita menjadikan sebahagian yang lain sebagai tuhan selain Allah." Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahawa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (Ali-Imran : 64)

Menyeru manusia kepada kesatuan bukan di atas agama Allah SWT adalah merupakan kebathilan dan seolah-olah mengadakan sekutu dan syirik kepada Allah SWT.

Seruan mengajak manusia kepada tuhan yang satu ialah seruan yang padanya tidak boleh ada perbezaan. Apabila manusia di ajak untuk bersama-sama mentauhidkan Allah dan dia menolaknya maka perbezaan seperti inilah yang wajar ditentang dan boleh diperangi.

Begitu juga dengan kewajipan-kewajipan agama yang wujud dalil jelas daripada Al-Quran dan As-sunnah yang lain seperti perintah mendirikan solat berjamaah, berpuasa, menunaikan haji dan mengeluarkan zakat.

Apabila seseorang mahu bersolat sendirian sedangkan dia lelaki yang mampu menunaikan solat berjamaah maka ketika ini dia boleh dibantah dan diperbetulkan untuk dibawa kepada persamaan soff untuk berjamaah. Begitu juga apabila orang ramai berbeza di dalam hal yang terdapat padanya dalil dan pertunjuk jelas daripada Al-Quran dan As-sunnah maka ketika itu wajiblah untuk mengikuti Al-Quran dan As-sunnah dan bersatu padanya tanpa menyelisih diri dan berbeza.

Kita sukar menerima perbezaan kerana kita terasa hilang kawalan dan merasa jahil dengan perbezaan dan cara kehidupan yang tidak sama dengan kita. Kejahilan itu apabila dimiliki oleh mereka yang hatinya kotor dan tidak bersih akan menyebabkan mereka mencemuh dan mencela orang yang berbeza dengan menyangka mereka melakukan kerja mulia dan suci di sisi tuhan dan mata orang ramai namun pada hakikatnya merekalah yang buruk kelakuannya di sisi Allah SWT.

Kesatuan itu hanyalah milik Allah SWT dan ditegakkan hanya kerana Allah SWt dan dilaksanakan mengikut perintah Allah SWT.

Firman Allah SWT : “Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab yang bercahaya.” (Al-Haj: 8)